Tragedi Kanjuruhan yang terjadi 1 Oktober malam di Stadion Kanjuruhan, Malang, menjadi tragedi kelam dunia sepak bola di Indonesia. Tidak hanya memakan korban dewasa, keributan yang terjadi usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya itu juga menimbulkan korban anak-anak. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menyebut ada 37 anak korban meninggal dan luka-luka.
Ciput Eka Purwianti, Asisten Deputi Perlindungan Khusus Anak dari Kekerasan di KemenPPPA, menyebut masih berupaya menelusuri identitas anak-anak korban Tragedi Kanjuruhan. Ia juga mengatakan KemenPPPA sudah merencanakan kunjungan ke rumah-rumah untuk penelusuran data dari anak yang menjadi korban Tragedi Kanjuruhan, sekaligus memberi dukungan psikosial pada keluarga yang kehilangan anak-anaknya.
“Di daerah, Unit Layanan Perlindungan Perempuan dan Anak telah menyediakan call center untuk seluruh masyarakat yang ingin memberikan informasi ataupun mencari anggota keluarganya yang masih belum ditemukan ataupun membutuhkan dukungan psikososial untuk reach out ke nomor ini,” ungkap Ciput dalam talkshow Ruang Publik yang disiarkan kanal Youtube Berita KBR pada Kamis (6/10).
Baca juga: Tragedi Kanjuruhan, TGIPF Jelaskan Rekaman CCTV yang Hilang
Menanggapi tragedi sepak bola di tanah air ini, Ciput mengatakan perlunya stadion yang ramah perempuan dan anak serta disabilitas. Ketua Paguyuban Suporter Timnas Indonesia, Ignatius Indro, berpendapat Stadion Gelora Bung Karno (GBK) bisa dijadikan stadion ramah anak. Seperti apa stadion ang ramah anak, perempuan dan disabilitas ini? Seperti apa aturan keamanan pertandingan olahraga bila anak-anak ikut menonton pertandingan dengan penonton jumlah besar?
Simak penjelasan lengkap Ciput Eka Purwianti dan Ignatius Indro di podcast Ruang Publik episode Perlindungan Anak Saat Pertandingan Olahraga yang dapat didengarkan di KBRPRIME.id dan platform mendengarkan podcast lainnya.
Editor: Vitri Angreni