DKP Jateng Imbau Nelayan Tak Melaut di Sekitar PLTU

Larangan ini menyusul insiden masuknya bongkahan batu bara di dalam alat tangkap nelayan Roban, Batang Jawa Tengah

BERITA | NUSANTARA

Senin, 21 Des 2020 12:56 WIB

Author

Anindya Putri

DKP Jateng Imbau Nelayan Tak Melaut di Sekitar PLTU

Foto hasil tangkapan nelayan Roban yang bercampur dengan batu bara. (Foto: Aninda/KBR)

KBR, Semarang- Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah meminta agar nelayan yang berada di sekitar PLTU Batang untuk tidak menangkap ikan di jalur tongkang batu bara. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jateng, Fendiawan mengungkapkan, larangan ini menyusul insiden masuknya bongkahan batu bara di dalam alat tangkap nelayan Roban, Batang Jawa Tengah, Selasa (15/12) lalu.

"Nelayan ya kita mengharapkan untuk tidak menangkap ikan di sekitar titik PLTU ya dan menghindari alur pelayaran kapal tongkang batu bara karena akhir-akhir ini gelombang besar dan mungkin ada tumpahan batu bara. Bantuan jaringan mungkin belum ya tahun depan kalau ada pengajuan dari nelayan akan kita pertimbangankan," ungkap Fendi kepada KBR di Semarang, Senin (21/12/20).

Menurutnya, ceceran bongkahan batu baru berasal dari tumpahan salah satu tongkang yang sedang melaksanakan bongkar di PLTU untuk melakukan uji coba menghidupkan turbin. Terkait ganti rugi untuk nelayan, Dinas Kelautan dan Perikanan mengaku sedang melakukan pendataan total kerugian.

"Kita usahakan akan memberikan jaring kepada nelayan nantinya," pungkasnya.

Sebelumnya, sejumlah nelayan di Roban, Batang Jawa Tengah kembali mengeluhkan rusaknya alat tangkap akibat masuknya bongkahan batu bara yang diduga berasal dari PLTU Batang. Salah seorang nelayan Roban, Usman Riyadi mengungkapkan bongkahan batu bara masuk kedalam alat tangkap nelayan bercampur dengan hasil tangkap ikan.

"Sebelum saya kena kemasukan batu bara, itu bukan limbah itu tapi batu bara bengkohan soalnya PLTU belum beroperasi paling pernah ada tongkang yang lewat. Proses pengangkatan hasil tangkap itu cukup lama yang biasanya 15 menit sampai 2 jam soalnya alat tangkap nelayan kemasukan batu bara itu," Ungkap Usman kepada KBR, Jumat (18/12/20). 

Editor: Friska Kalia

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Izin Keruk Harta Karun RI

Kabar Baru Jam 8

Mama 'AB': Mengikat Yang Tercerai

Gelar Konser Musik dan Seni Pertunjukan Offline. Apa Sudah Memungkinkan?