Tak Menguntungkan, Puluhan Pemasok Beras Bantuan Pangan Non-Tunai Mundur

"Dari suplier yang awalnya 87 kelompok tani, kini hanya tinggal 20 sampai 25 saja. Yang lain mengundurkan diri. Ini sebenarnya harus ditegasnya soal regulasinya."

BERITA , NUSANTARA

Rabu, 12 Des 2018 14:53 WIB

Author

Muji Lestari

Tak Menguntungkan, Puluhan Pemasok Beras Bantuan Pangan Non-Tunai Mundur

Ilustrasi. (Foto: pertanian.go.id)

KBR, Jombang - Puluhan pemasok beras dari kelompok tani mengundurkan dari dari daftar penyuplai beras program Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) wilayah Kabupaten Jombang Jawa Timur Erwin Burhan mengatakan pemasok beras angkat tangan karena harga beli dari Dinas Sosial lebih rendah dari harga pasar.

Harga beras di pasaran Jombang mencapai Rp9.500 per kilogram sedangkan harga yang ditentukan Dinas Sosial Jombang Rp9.400 per kilogram untuk beras jenis medium, atau ada disparitas harga Rp100 per kilogram.

"Dari suplier yang awalnya 87 kelompok tani, kini hanya tinggal 20 sampai 25 saja. Yang lain mengundurkan diri. Ini sebenarnya harus ditegasnya soal regulasinya," kata Erwin Burhan.

Menurut hitung-hitungan KTNA Jombang, standar harga beras yang menguntungkan petani berkisar Rp9.800 per kilogram. Erwin menilai harga itu sudah sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ada.

"Jadi itu sudah dihitung semuanya, mulai dari proses pengemasanya hingga distribusinya ke agen", imbuhnya.

Erwin khawatir pasokan beras untuk memenuhi kebutuhan 100.561 keluarga penerima manfaat (KPM) BPNT tidak terpenuhi karena persoalan harga itu.

Sejauh ini, kata Erwin, distribusi beras untuk BPNT di Jombang sudah berjalan dua tahap atau dua bulan. Untuk mengejar stok dalam kurun waktu tersebut, KTNA memanfaatkan sisa penyuplai yang ada dengan metode subsidi silang. Mengani asal beras, Erwin tidak tahu karena tugas KTNA hanya sebagai pengawas saja.

"Tahap satu susah kelar, tahap dua sekitar 60 persen. Soal stok, misal untuk daerah Mojowarno, Jogoroto dan Ngoro stok dipenuhi oleh satu pemasok. Kalau asal beras, saya kurang tahu. Itu dari kelompok tani yang cari. Tugas saya hanya sebagai pengawas, kalau ada kesulitan di lapangan baru saya bantu", kata Erwin.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jombang, M Saleh tidak menjawab saat dihubungi melalui ponselnya.

Pelaksanaan program Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) di Jombang Jawa Timur sebelumnya juga sempat muncul masalah, ketika warga mendapat bantuan telur yang tidak layak konsumsi. Pada akhir November lalu, keluarga penerima manfaat (KPM) di Kecamatan Peterongan, Jombang, banyak yang mengembalikan bantuan telur karena membusuk dan berbau tidak sedap.

Editor: Agus Luqman
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17