Beroperasi Tanpa Kondom, PSK Sulitkan Pemberantasan HIV

Keberadaan pekerja seks komersial (PSK) yang masih bebas beroperasi di pinggir jalur Pantura Lasem membuat pemberantasan HIV/AIDS sulit dilakukan.

NUSANTARA

Jumat, 05 Des 2014 10:04 WIB

Author

Musyafa

Beroperasi Tanpa Kondom, PSK Sulitkan Pemberantasan HIV

Beroperasi Tanpa Kondom, PSK, HIV

KBR, Rembang – Keberadaan pekerja seks komersial (PSK) yang masih bebas beroperasi di pinggir jalur Pantura Lasem membuat pemberantasan HIV/AIDS sulit dilakukan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mengungkap, di sepanjang jalur itu ditemukan 27 PSK, yang enam diantaranya positif terjangkit virus HIV. Mereka semua berasal dari luar daerah. Kebanyakan PSK penyandang HIV di lokasi itu disebabkan karena mereka beroperasi tanpa menggunakan kondom.

Menurut Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Rembang, John Budi, untuk mengatasi masalah tersebut pihaknya tengah mencari kondom khusus wanita, agar tetap aman saat PSK berhubungan seks.

"Nah ini kami juga akan mengusulkan pengadaan kondom khusus wanita. Jadi kalau yang laki-laki menolak pake, perempuannya tetap aman. Nanti kami arahkan. Sementara yang dibagikan memang baru kondom untuk pria," jelas John Budi kepada Portalkbr, Jumat (5/12).

Terkait penanganan 6 orang PSK positif HIV, John Budi menegaskan pihaknya siap menanggung seluruh biaya cek ketahanan tubuh di rumah sakit Pati. Hal itu penting, untuk menentukan langkah langkah konseling selanjutnya.

Soal pengabaian pemakaian kondom diakui seorang PSK di tempat tersebut, Cornelia (bukan nama sebenarnya). Ia mengaku sering menjumpai tamu yang menolak mengenakan kondom. Demi meraup penghasilan, ia tetap melayani, tanpa memikirkan resiko akan tertular virus HIV.

"Namanya juga orang banyak, Mas, kadang ada yang mau, kadang ya nolak. Yang menolak memakai kondom, saya tidak bisa memaksa. Tapi rasa rasanya saya masih tetap sehat kok," ungkapnya.

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun