Arkeolog Minta Pemerintah Jaga Data yang Terkait Manusia Purba

Kalangan arkeolog meminta pemerintah untuk menjaga data-data yang terkait dengan hasil-hasil kebudayaan yang dibuat manusia purba di Indonesia.

NUSANTARA

Jumat, 19 Des 2014 07:29 WIB

Author

Anto Sidharta

Arkeolog Minta Pemerintah Jaga Data yang Terkait Manusia Purba

Arkeolog, Pemerintah, Manusia Purba

KBR – Kalangan arkeolog meminta pemerintah untuk menjaga data-data yang terkait dengan hasil-hasil kebudayaan yang dibuat manusia purba di Indonesia.

Hal ini diminta menyusul masuknya empat arkeolog Indonesia masuk dalam daftar ilmuwan paling berpengaruh di dunia untuk bidang ilmu sosial (The World's Most Influential Scientific Minds 2014).

Menurut Arkeolog Junus Satrioatmodjo,  upaya menjaga data ini harus dilakukan pemerintah untuk membantu kerja arkeolog di Indonesia dalam menjaga warisan budaya.

“Yang berhubungan hasil-hasil kebudayaan yang dibuat manusia. Oleh karena data beragam, kadang-kadang benda-benda kecil kecil yang tidak kelihatan. Contohnya manusia purba yang ditemukian di Sangiran, itu hanya sisa-sisa tulang, berbeda dengan Borobudur yang besar,” ujar Junus Satrioatmodjo dalam perbincangan di Sarapan Pagi KBR, Jumat (19/12).

Menurut Junus, sejauh ini perhatian pada data hanya sebatas peninggalan sejarah yang besar saja seperti Candi Borobudur.

“Padahal kalau kita  bicara soal data arkeloogi yang dibicarakan  bukan hanya hasil karya manusia tapi juga prosesnya. Karena inilah yang menjadi memuncul pertanyaan di masyarakat,. Bagaimana cara membuat Borobudur? Bagaimana manusia purba kok bisa berubah seperti sekarang. Nah itulah proses. Karena itu kita membutuhkan data,” kata Junus.

Keberadaan data yang terjaga baik, kata Junus, akan memudahkan kerja arkeolog di lapangan.

Dalam keterangan yang dirilis baru-baru ini, Thomson Reuters menyatakan, empat arkeolog  Indonesia masuk dalam daftar ilmuwan paling berpengaruh di dunia untuk bidang ilmu sosial .Para arkeolog yang masuk daftar tersebut adalah Rokus Awe Due, Jatmiko, E Wahyu Saptomo, dan Thomas Sutikna. Semuanya dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) di Jakarta.

Capaian ini berkat penemuan Homo floresiensis atau manusia kerdil dari Flores yang ditemukan di Liang Bua.  Penemuan itu dimuat di Nature edisi 27 Oktober 2004. Manusia kerdil Flores saat itu dinyatakan sebagai spesies manusia purba yang berbeda, tetapi kemudian muncul kontroversi. Beberapa ilmuwan mengatakan, H floresiensis adalah manusia yang mengalami kekerdilan.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Vaksinasi Covid-19 dan Ancaman Hoaks

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Bencana Kala Pandemi dan Kesiapan Fasilitas Kesehatan

Kabar Baru Jam 10