Tenaga Honorer di Situbondo Ancam Gugat BKN ke PTUN

KBR68H, Situbondo - Ratusan tenaga honorer di Situbondo tak mengenal lelah memperjuangkan nasibnya. Setelah gagal mengikuti tes CPNS melalui jalur K2, mereka yang tergabung dalam Front Pembela Honorer Indonesia, FPHI, terus melakukan perlawanan.

NUSANTARA

Selasa, 24 Des 2013 13:33 WIB

Author

Radio Bhasa FM Situbondo

Tenaga Honorer di Situbondo Ancam Gugat BKN ke PTUN

honorer, situbondo, gugat BKN

KBR68H, Situbondo - Ratusan tenaga honorer di Situbondo, Jawa Timur tak mengenal lelah memperjuangkan nasibnya. Setelah gagal mengikuti tes CPNS melalui jalur K2, mereka yang tergabung dalam Front Pembela Honorer Indonesia, FPHI, terus melakukan perlawanan.

Bahkan jika tak segera diangkat menjadi CPNS, mereka mengancam akan menggugat Badan Kepegawaian Nasional, BKN, melalui Pengadilan Tata Usaha Negara, PTUN.

Selain itu,  FPHI juga meminta BKN melakukan tes CPNS ulang, karena tes CPNS sebelumnya dinilai  banyak kecurangan. Badan Kepegawaian Daerah dinilai kurang seksama melakukan verifikasi dan validasi data honorer K1 dan K2.

Berdasarkan pantauan, puluhan pengurus Front Pembela Honorer Indonesia, mendatangi Kantor DPRD  dan Pemkab Situbondo. Selain itu mereka juga mendatangi Kantor Badan Kepegawaian Daerah, dan Kantor Dinas Kesehatan. FPHI menyerahkan dokumen data honorer se Situbondo yang jumlahnya mencapai sekitar 4000 orang.

Koordinator Wilayah FPHI Jawa Timur, Irwan Rakhday mengatakan, pihaknya tak hanya membela honorer K1 dan K2, melainkan seluruh honorer di Situbondo yang nasibnya masih terkatung-katung.

Menurut Irwan, ada empat tuntutan terkait banyaknya   honorer yang belum diangkat menjadi PNS, diantaranya, meminta BKN mengangkat seluruh honorer menjadi CPNS, dengan mempertimbangkan masa kerja dan usia.   Tidak hanya itu, FPHI juga  mengaku akan melaporkan dugaan kecurangan pendataan honorer K1 dan K2 ke Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK.

Sumber: Radio Bhasa FM Situbondo

Editor: Doddy Rosadi



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Persiapan Pemerintah Jawa Barat Hadapi New Normal

Kabar Berita Jam 15