Ribuan Siswa SMK Nunggak Uang Pendidikan, Sekolah Tahan Ijazah

Ribuan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bantul, Yogyakarta, harus menunggak biaya sekolah hingga Rp 5 miliar lebih lantaran tak mampu melunasi uang pendidikan.

NUSANTARA

Senin, 02 Des 2013 17:01 WIB

Author

Star Jogya

Ribuan Siswa SMK Nunggak Uang Pendidikan, Sekolah Tahan Ijazah

Siswa SMK, bantul, Uang Pendidikan, Ijazah

KBR68H, Bantul - Ribuan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bantul, Yogyakarta, harus menunggak biaya sekolah hingga Rp 5 miliar lebih lantaran tak mampu melunasi uang pendidikan.

Kepala Seksi Kurikulum dan Tenaga Pendidikan, Dinas Pendidikan Menengah dan Non Formal (Dikmenof) Bantul, Suparwanto menyatakan, siswa SMK memiliki tunggakan pembayaran uang sekolah yang nilainya tak sedikit.

Biaya pendidikan di sekolah kejuruan ini tergolong mahal, lantaran tak hanya banyak teori namun juga praktik. Bahkan di sebuah sekolah di Kecamatan Bambanglipuro, tunggakan biaya pendidikan yang belum dibayar peserta didik mencapai Rp 1 miliar lebih hasil akumulasi beberapa tahun terakhir.

“Karena satu siswa SMK itu biaya pendidikan standarnya saja minimal empat juta satu orang,” terang Suparwanto.

Kondisi tersebut menurutnya, mengganggu operasional sekolah. Alhasil, di beberapa SMK, sekolah terpaksa menahan ijazah siswa yang telah lulus, selama belum melunasi tunggakannya.

Meski di sisi lain dianggap tak baik, karena menahan hak siswa menerima ijazah guna melanjutkan bekerja atau sekolah lagi.

Kepala SMK Muhamadiyah Bambanglipuro, Maryoto mengatakan, total tunggakan sekitar 700 siswanya sejak dua tahun terakhir mencapai Rp 1,3 miliar. Di SMK Bambanglipuro, sumbangan pendidikan tiap bulan dikenakan Rp 100.000 serta uang praktik sebesar Rp 450.000 setahun.

“Untuk uang pembangunan gedung pertama masuk satu juta. Sebenarnya termasuk murah, hanya kenyataannya banyak yang menunggak, memang selain itu masih ada uang praktik,” ujarnya.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan Dinas Pendidikan Menengah dan Non Formal Bantul, Sukarja mengakui, perhatian pemerintah menurutnya saat ini hanya pada SMK negeri, walau SMK swasta lebih banyak.

Di Bantul, dari total 48 SMK hanya 12 diantaranya yang merupakan sekolah negeri, sisanya swasta. “Kalau negeri masih ada anggaran dari pemerintah. Tapi kalau swasta ini enggak, ini yang repot,” ujarnya.

Sumber: Star Jogja
Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Jurus Investasi Reksadana Antitekor

Kiat Asyik Tegakkan Prokes saat Rayakan Hari Raya

Kabar Baru Jam 7

Upaya Mencegah Penyebaran Covid-19 Klaster Idulfitri