Masih Ada 100 Ribu Pemilih di Papua yang Tak Punya NIK

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Papua mencatat hingga saat ini masih ada 100 ribu pemilih yang belum memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK).

NUSANTARA

Jumat, 13 Des 2013 15:02 WIB

Author

Radio Swara Nusa Bahagia

Masih Ada 100 Ribu Pemilih di Papua yang Tak Punya NIK

100 Ribu Pemilih, Papua, NIK

KBR68H, Jayapura – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Papua mencatat hingga saat ini masih ada 100 ribu pemilih yang belum memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Ketua KPU Papua, Adam Arisoy mengaku, jumlah ini telah berkurang setelah sebelumnya ada sekira 600 ribu pemilih yang tidak memiliki NIK.

“Upaya perbaikan NIK-nya dari 600 ribu kita sudah tinggal 100 ribu. Itu upaya cukup keras, kita minta dinas catatan sipil, pemerintah daerah bekerja sama dengan Kemendagri sehingga dari 600 ribu. Sisa yang kami pleno di Papua bawa ke Jakarta sekarang tinggal 100 ribu lebih berarti itukan penurunan,” tutur Adam di Jayapura, Jumat (13/12).

Ketua KPU Papua, Adam Arisoy mengatakan, pemilih yang belum memiliki NIK ini tersebar di seluruh kabupaten dan paling banyak di wilayah pedalaman Papua.

“500 ribu pemilih yang sebelumnya tidak memiliki NIK sudah kita masukkan ke DPT. Sebab menurut teman-teman di DPR dan Bawaslu, pemilih yang tidak memiliki NIK dianggap pemilih fiktif,” jelas Adam.

Untuk menuntaskan yang tersisa yakni 100 ribu pemilih, lanjut Adam, pihakya bekerja sama dengan Dinas Kependudukan agar bulan ini kelar.

“Saat ini sedang diupayakan, dan semoga masalah NIK ini bisa terselesaikan dalam bulan ini juga mengingat waktu Pemilu tinggal empat bulan lagi,”pungkasnya.

Saat ini jumlah pemilih tetap di Papua mencapai 3,2 juta pemilih. Angka ini naik signifikan dari jumlah DPT pada Pilkada Gubernur Januari lalu yang hanya 2,8 juta. (Andi Iriani)

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Ramadan Kelabu Korban Gempa Malang

Kabar Baru Jam 7

Maqam Ibrahim: Mengaji Artefak Arkeologi

Kebebasan dalam Berpakaian

Kabar Baru Jam 8