Pandemi, IDI Jabar: Banyak Pasien Positif Corona Menolak Dirawat

"Dihindari pulang paksa karena selain tidak bisa melindungi dirinya, tapi untuk melindungi orang lain juga dari penularan,”

NUSANTARA | RAGAM

Kamis, 12 Nov 2020 15:51 WIB

Author

Arie Nugraha

Pandemi, IDI Jabar: Banyak Pasien Positif Corona Menolak Dirawat

Tenaga kesehatan memakai alat pelindung diri (APD) sebelum memeriksa pasien covid di ruang IGD RSUD Karawang, Jabar, Rabu (7/10). (Antara/Ibnu Chazar)

KBR, Bandung- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat menyebutkan masih banyak pasien positif Covid-19 yang menolak dirawat di instalasi kesehatan. Meski secara medis usai beberapa kali pemeriksaan laboratorium menunjukan terkonfirmasi.

Menurut Ketua IDI Jawa Barat Eka Mulyana, kasus terakhir penolakan pasien terkonfirmasi Covid-19 terjadi di salah satu kabupaten dua pekan lalu. Eka meminta pemerintah menggencarkan kembali sosialisasi edukasi soal pencegahan paparan penyakit akibat virus SARS-CoV-2 di masyarakat.

“Yang sering diberitakan tuh penolakan pemakaman, penolakan perawatan juga masih ada. Artinya kan pulang paksa, atas keinginan sendiri dia pulang tidak mau dirawat. Nah, tenaga medis masa ngurusin-ngurusin yang kayak gitu. Sementara tenaga medis tuh ngurusin yang aspek kesehatannya, medisnya. Nah aspek-aspek nonmedisnya tentunya pihak-pihak lainnya harus turun tangan. Misalkan Satgas atau aparat keamanan,” ujar Eka saat dihubungi via telepon, Bandung, Kamis (12/11).

Eka mengatakan   dengan mengikuti perawatan di instalasi kesehatan, pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 ikut membantu pencegahan meluasnya paparan penyakit ini. Eka menuturkan jika pasien terkonfirmasi paparan Covid-19 tanpa gejala (OTG) akan dirawat di pusat rehabilitasi yang telah disediakan oleh pemerintah.

Sedangkan untuk pasien yang didiagnosa bergejala Covid-19, dirawat di instalasi kesehatan yang telah disediakan oleh pemerintah. Eka mengatakan, pemerintah telah menyediakan banyak tempat untuk merawat pasien Covid-19.

“Kalau perlu isolasi mandiri di rumah ya bisa dilakukan. Tetapi kan di rumah itu ada orang lain yang memungkinkan terpapar. Kemudian tidak ada petugas medis yang intensif melakukan pemantauan baik dalam hal pemberian obat, makanan bergizi dan vitamin,” kata Eka.

Selain diperlukan sosialisasi edukasi masalah memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan, terdapat faktor lain yang harus dipahami oleh masyarakat. Eka menyebutkan faktor itu adalah pelacakan, pengetesan dan pengobatan.

IDI Jawa Barat menyatakan untuk pasien terkonfirmasi Covid-19 yang menolak penanganan medis, maka dianggap melanggar Undang-Undang Wabah atau Undang-Undang Karantina dengan ancaman sanksi hukuman kurungan 1 tahun atau denda. Alasannya karena kondisinya saat ini tengah dalam darurat pandemi.

“Perlu komunikasi dengan melibatkan satgas dan pihak atau bagian terkait, tidak hanya oleh tenaga medisnya. Dihindari pulang paksa karena selain tidak bisa melindungi dirinya, tapi untuk melindungi orang lain juga dari penularan,” sebut Eka.

IDI Jabar menganggap hal ini diperlukan ketegasan  terutama Satgas atau bahkan dari TNI dan Polri.

Organisasi profesi itu tidak mengumumkan secara detail jumlah kasus dan lokasi kejadian, karena menyangkut kerahasiaan data pasien.

Editor: Rony Sitanggang


(Redaksi KBR mengajak untuk bersama melawan virus covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan 3M, yakni; Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun.)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Inggris Perpendek Masa Karantina Turis Asing

Menggunakan Sains Data untuk Atasi Kemacetan di Jakarta

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Beda Nasib Serapan Insentif Usaha di Progam Pemulihan Ekonomi Nasional