Banyuwangi Kekurangan Buku Baca

Beberapa sekolah dasar di Banyuwangi tidak mempunyai perpustakaan dan buku baca untuk siswa

BERITA | NUSANTARA

Kamis, 15 Nov 2018 15:03 WIB

Author

Hermawan Arifianto

Banyuwangi Kekurangan Buku Baca

Ilustrasi: Anak membaca buku (Foto: KBR/Friska Kalia)

KBR, Banyuwangi- Rumah Literasi Indonesia di Banyuwangi, Jawa Timur, menyatakan hingga akhir 2018, Kabupaten paling timur di Pulau Jawa ini masih kekurangan buku baca. Pendiri Rumah Literasi Indonesia di Banyuwangi Tunggul Harwanto mengatakan, dari sekitar 57 lebih rumah baca yang tersebar di Banyuwangi, koleksi buku bacaan hanya berkisar 100 hingga 200 buku. Padahal, idealnya setiap  rumah baca setidaknya punya koleksi antara 500 hingga 1000 buku.

“Koleksi taman baca yang bersinergi dengan kami itu masih 100 sampai 200 itu sangat kurang sekali. Memang ada rumah baca yang sudah cukup sekitar lima rumah baca yang memang koleksinya melebihi 500 sampai 1000, itu artinya bahwa rumah baca yang lain perlu mendapatkan akases,” kata Tunggul Harwanto, Kamis (15/11/2018) di Banyuwangi.

Tunggul Harwanto menambahkan, kekurangan buku tidak hanya terjadi di rumah baca namun juga beberapa sekolah dasar di Banyuwangi. Bahkan, ada sekolah yang sama sekali tidak mempunyai perpustakaan dan buku baca untuk siswa.

Saat ditanya soal berhentinya program pengiriman buku gratis oleh PT.Pos Indonesia, Tunggul mengaku kecewa. Menurutnya, banyak bantuan buku datang dari donatur karena adanya program tersebut. 

"Sayang saja kalau berhenti, karena banyak rumah baca yang terbantu dengan program itu. Kami terakhir mendapat kiriman bulan lalu. Kalau bisa ya dilanjutkan," katanya.

Baca juga: 

Editor: Friska Kalia  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Arah Kebijakan Ekonomi Kabinet Baru Jokowi

Kabar Baru Jam 10

Gubernur Anies Enggan Komentari Rencana Kenaikan UMP 8,51 Persen Menjadi Rp4,2 juta

Kabar Baru Jam 8