Stok Gas LPG 3 Kg di Lombok Hampir Normal

KBR, Mataram - Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Provinsi NTB membantah gas LPG 3 kg masih langka di Lombok. Pemerintah pusat sudah memberikan tambahan sekitar 9 ribu metrik ton gas LPG di Lombok untuk memenuhi kebutuhan warga.

NUSANTARA

Senin, 03 Nov 2014 18:59 WIB

Author

Zainudin Syafari

Stok Gas LPG 3 Kg di Lombok Hampir Normal

pertamina, gas, mataram

KBR, Mataram - Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Provinsi NTB membantah gas LPG 3 kg masih langka di Lombok. Pemerintah pusat sudah memberikan tambahan sekitar 9 ribu metrik ton gas LPG di Lombok untuk memenuhi kebutuhan warga.

Wakil ketua Hiswana Migas Provinsi NTB Machsun Ridwainny mengatakan bisa saja LPG 3 kg masih sulit didapat. Sebab masih terjadi proses normalisasi. Artinya banyak konsumen yang langsung menyerbu stok LPG bersubsidi itu setelah dikirim dari agen.

“Tidak langka pak. Tadi katanya ada penambahan. Ibaratnya kemarin kebutuhan sangat tinggi, ini kan terserap semua. Jadi stok-stok tidak ada di pangkalan. Nah sekarang mulai diisi, tapi kan tidak secepat itu dia normal. Harga sudah turun, kalau di Lombok tengah saya sudah keliling. Itu harganya Rp 17.500,” kata machsun Senin (3/11)

Machsun mengatakan ada beberapa penyebab yang membuat elpiji langka di tingkat pangkalan dan pengecer. Di antaranya LPG 3 kg digunakan petani untuk pengeringan tembakau. Sehingga jatah untuk rumah tangga manjadi berkurang.

Selanjutnya, gas LPG 3 Kg dikirim oleh oknum tertentu ke pulau Sumbawa. Padahal Sumbawa belum ada kebijakan konversi dari minyak tanah ke gas LPG.

Saat ini harga di tingkat konsumen sekitar Rp 17.500 per tabung. Di tingkat agen, harga yang diberikan ke pangkalan sebesar Rp 13.500 per tabung. Ini dimaksudkan agar pangkalan bisa menekan harga di tingkat konsumen.

"Tapi yang namanya pangkalan, ketika ada kesempatan ya di naikkan. Yang jelas tidak langka, ibarat kain sudah ada bolong, tutupin ada lubang. Insya Allah dua minggu ke depan sudah normal," katanya.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Menteri Nadiem Makarim Diminta Kaji Ulang Kebijakan Kampus Merdeka