Penumpang KRL: Ketepatan Waktu Lebih Penting dari Kompensasi

Para pengguna kereta rel listrik (KRL) menilai pemberian kompensasi atas keterlambatan keberangkatan kereta api tak terlalu penting. Namun yang harus diperbaki adalah ketepatan waktu dan informasi yang jelas jika terjadi gangguan.

NUSANTARA

Selasa, 04 Nov 2014 08:09 WIB

Author

Antonius Eko

Penumpang KRL:  Ketepatan Waktu Lebih Penting dari Kompensasi

KRL, kereta, jakarta

Para pengguna kereta rel listrik (KRL) menilai pemberian kompensasi atas keterlambatan keberangkatan kereta api tak terlalu penting. Namun yang harus diperbaki adalah ketepatan waktu dan informasi yang jelas jika terjadi gangguan. 


Juru Bicara KRL Mania, Agam Fatchurrochman mengatakan, proses kompensasi bukan hal yang baru karena biasanya jika terjadi keterlambatan, pihak stasiun menawarkan ganti rugi untuk uang tiket. 


“Keterlambatan biasanya terjadi jika ada gangguan listrik, bisa terlambat dua jam. Praktiknya jika kita keluar dari stasiun uangnya dikembalikan. Jadi ini bukan aturan yang baru. Kita juga bisa minta surat keterlambatan,” kata Agam. 


Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan mengatur empat standar pelayanan mininum (SPM) baru untuk angkutan orang dengan kereta api. 


Salah satunya mengatur soal kompensasi. Dalam hal keterlambatan keberangkatan perjalanan terjadwal dari kereta api pada stasiun setiap penumpang berhak mendapatkan formulir informasi keterlambatan dari penyelenggara sarana. Surat ini diberikan apabila jadwal kereta api ngaret 30 menit-1 jam. 


Sementara untuk keterlambatan lebih dari satu jam, wajib dikenakan hak pengembalian 100 persen bagi penumpang yang membatalkan perjalanan. 


Sementara itu, untuk kereta antarkota, keberangkatan setiap penumpang mendapatkan kompensasi lebih dari tiga jam wajib diberikan minuman dan makanan ringan serta lebih dari lima jam diberikan kompensasi berupa makanan berat dan minuman dan berlaku kelipatannya. 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Rawan Kriminalisasi Kelompok Rentan, Aktivis Minta RKUHP Ditolak