covid-19

Keraton Cirebon Hidupkan Kembali Motif Batik Kuno

KBR, Cirebon - Anggota kelompok batik Keraton Kasepuhan menghidupkan kembali motif batik kuno asli Cirebon. Hal ini dilakukan karena tingginya animo masyarakat terhadap batik.

NUSANTARA

Rabu, 05 Nov 2014 20:02 WIB

Keraton Cirebon Hidupkan Kembali Motif Batik Kuno

cirebon, keraton, batik

KBR, Cirebon - Anggota kelompok batik Keraton Kasepuhan menghidupkan kembali motif batik kuno asli Cirebon. Hal ini dilakukan karena tingginya animo masyarakat terhadap batik.

Motif batik kuno yang akan dihidupkan lagi yakni koleksi Keraton Kasepuhan dan kerabatnya. Sultan Sepuh XIV Kasepuhan Arief Natadiningrat mengatakan pengumpulan yang dilakukan belum sampai kepada koleksi batik kuno berusia ratusan tahun milik Keraton Kasepuhan.

"Motif batik kuno, bukan hanya yang disimpan Keraton Kasepuhan tetapi juga milik kerabat keraton. Namun saat ini, upaya inventarisasi baru sampai yang dimiliki kerabat keraton," ujar Sultan Sepuh seusai kegiatan pelatihan teknis dan kewirausahaan UKM Kelompok Batik Keraton Kasepuhan di Bangsal Pagelaran Keraton Kasepuhan, Rabu (5/11).

Menurut Sultan, sejumlah koleksi kain batik milik Keraton yang sudah berusia ratusan tahun di antaranya adalah yang pernah dikenakan putri Ong Tien dan baju panglima dengan motif batik kaligrafi.

Ia menambahkan untuk menghidupkan motif batik kuno bukan hal yang mudah. Selain pembatik harus menguasai teknik melukis, membatik dan pewarnaan dengan warna alam. Pembatik juga harus menelusuri nama atau sebutan motifnya, baik dari sumber primer maupun dari naskah-naskah lama.

"Pembatik harus menguasai teknik membatik khusus dan dia harus mengerti filosofi dari motif-motif batik, karena teknik pembuatan dan motif batik sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai kehidupan," katanya.

Sultan menjelaskan upaya menghidupkan motif batik kuno merupakan bagian dari upaya pelestarian peninggalan seni budaya asli Cirebon. Asal usul batik Cirebon bersumber dari keraton yang kemudian menyebar luas ke masyarakat. Pada zaman dahulu, motif batik harus disesuikan dengan status atau kelas sosial pemakai dan acara atau kegiatannya.

"Prosesi tertentu juga harus dengan motif tertentu. Misalnya siraman, pernikahan, 7 bulan kehamilan atau kematian tentu motifnya berbeda sesuai dengan jenis prosesinya," jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, salah seorang pembatik yang juga anggota kelompok batik Keraton Kasepuhan Cirebon, Asih Kurniasih mengakui, sulitnya menghidupkan motif batik kuno.

"Terutama menelusuri nama motif batiknya, butuh perjuangan tersendiri karena harus sabar, teliti dan cermat," ujarnya.

Asih mengatakan, saat ini, kelompok batik Keraton Kasepuhan sudah berhasil menginventarisir sejumlah motif batik kuno milik kerabat keraton. Dua motif diantaranya bahkan sudah berhasil dihidupkan lagi.

"Dua motif itu yakni naga utah dan kliwed, sudah mulai diproduksi," terangnya.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Niatan Berantas Intoleransi di Lingkungan Pendidikan

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 7