Buruh Minta Gubernur Jabar Turun Tangan Soal UMK

Ratusan buruh dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) menuntut pemerintah Jawa Barat agar memenuhi penaikan besaran upah minimum kota (UMK) senilai 30 persen dari UMK 2014 yang tengah berjalan. Pemicunya adalah tuntutan serupa tidak dipenuhi

NUSANTARA

Selasa, 18 Nov 2014 16:31 WIB

Author

Ari Nugraha

Buruh Minta Gubernur Jabar Turun Tangan Soal UMK

UMK, jawa barat

KBR, Bandung - Ratusan buruh dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) menuntut pemerintah Jawa Barat agar memenuhi penaikan besaran upah minimum kota (UMK) senilai 30 persen dari UMK 2014 yang tengah berjalan. Pemicunya adalah tuntutan serupa tidak dipenuhi oleh seluruh pemerintah kota dan kabupaten.


Menurut Koordinator KASBI wilayah Jawa Barat, Sudaryanto, seluruh pemerintah kota dan kabupaten hanya menaikkan besaran UMK paling tinggi 10 persen.


"Semuanya deadlock. Bagaimana BBM tadi malam sudah naik 30 persen. Lah buruh rata-rata hanya naik 5 - 10 persen. Itu namanya yang tidak seimbang antara kebutuhan buruh dengan kondisi yang dihasilkan Apindo, Dewan Pengupahan dan pemerintahan yang kini tidak tahu pasar lalu menetapkan upah," ujarnya di depan Kantor Gubernur Jawa Barat, Jalan Diponogoro, Bandung, Selasa (18/11).


Sudaryanto mengatakan keberadaan Dewan Pengupahan dianggap tidak berpengaruh untuk meloloskan tuntutan buru. Sudaryanto menyebutkan penaikkan besaran UMK itu merupakan hasil survey seluruh kebutuhan hidup pokok buruh yang terbaru. Hasilnya oleh Sudaryanto, upah buruh mendatang senilai Rp 3,3 juta. Itu untuk buruh berstatus lajang.


Ratusan buruh dari KASBI melakukan unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jawa Barat menuntut penaikan UMK senilai 30 persen dari penetapan UMK semula. Mereka datang dengan berjalan kaki dari Monumen Perjuangan Rakyat dan membawa keranda mayat. 


Editor: Antonius Eko 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Pandemi dan Dampak Pada Kesehatan Mental Siswa

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Menanti Perhatian pada Kesehatan Mental Pelajar

Kabar Baru Jam 10