25 Komunitas di Aceh Alami Kekerasan Intoleransi

Sebanyak 25 komunitas di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam mengalami kekerasan intoleransi atas nama agama. Ini terjadi berulang kali dan diprediksi akan terus bertambah.

NUSANTARA

Senin, 17 Nov 2014 12:20 WIB

Author

Pebriansyah Ariefana

25 Komunitas di Aceh Alami Kekerasan Intoleransi

25 Komunitas di Aceh, Kekerasan Intoleransi

KBR, Jakarta - Sebanyak 25 komunitas di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam mengalami kekerasan intoleransi atas nama agama. Ini terjadi berulang kali dan diprediksi akan terus bertambah.

Menurut Juru Bicara ] Jaringan Masyarakat Sipil Peduli Syariat (JMSPS), Affan Ramly, kekerasan atas nama agama itu terjadi oleh semua agama, termasuk, Islam, Kristen dan Budha. Begitu juga terhadap perempuan.

Aksi kekerasan itu dilakukan oleh kelompok intoleran seperti ormas Islam radikal. Tindak kekerasan yang dilakukan seperti penutupan paksa gereja, penyegelan aktivitas keagamaan yang dianggap sesat, sampai pelarangan pendirian rumah ibadah.

“Penyerangan terhadap komunitas Islam yang dianggap sesat, kepada umat Kristen yang gerejanya tidak punya izin, pembangunan vihara yang dilarang," kata Affan kepada Portalkbr pada peringatan Hari Toleransi Sedunia di Perpustakaan Nasional Jakarta, Senin (17/11).

Affan menjelaskan kebanyakan aksi kekerasan berlatar agama itu lantaran dominasi kelompok mayoritas. Ada juga karena aturan Peraturan Daerah Qanun dianggap distriminantif.

"Aksi itu terjadi dalam 3 tahun sekali. Terakhir Oktober lalu. Kemungkinan akan terus bertambah. (Bentuk kekerasan seperti apa?) Kekerasan banyak. Ada pengusiran, pembatasan hubungan sosial, penyegelan rumah ibadah, dan pemukulan," terangnya.

Dia juga mengatakan tindakan itu tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat. Bahkan aparat kepolisian lebih melindungi pelaku kekerasan.

"Pemerintah tahu, masalahnya politikus dia memilih aman. Aman secara politik. Berpihak ke mayoritas. Banyak diam. Dia lebih memihak ke pelaku kasus kekerasan," paparnya.

Data kekerasan itu dibukukan dan diberikan kepada Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Machasin di acara Hari Toleransi Sedunia di Jakarta.

Dalam kesempatan berbeda, Machasin mengatakan Kementerian Agama akan menindaklanjuti dan membahasas kasus-kasus itu.

"Ini masukan dan informasi berguna buat kami," ujar Machasin.

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Aplikasi LAPOR Dinilai Tidak Efektif Tanggapi Laporan Masyarakat

Kabar Baru Jam 15

Perlukah Sertifikasi Pernikahan?

Kabar Baru Jam 14