Stop Kekerasan di Papua, Keluarga Kuncinya

Papua mengampanyekan

NUSANTARA

Senin, 25 Nov 2013 12:43 WIB

Author

Radio Swara Nusa Bahagia

Stop Kekerasan di Papua, Keluarga Kuncinya

Stop Kekerasan di Papua, Keluarga, Jayapura

KBR68H, Jayapura - Papua mengampanyekan “Stop Aksi Kekerasan kepada Perempuan dan Anak”. Kampanye ini dilakukan dengan cara menonton film pendek tentang program pencegahan kekerasan dan juga penandatanganan bersama spanduk. Kampanye ini dilakukan guna mencegah kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Bupati Jayapura, Matius Awitouw yang ikut dalam kegiatan tersebut mengungkapkan, pemicu kekerasan kepada perempuan dan anak yang terjadi di Bumi Cenderawasih, salah satunya adalah minuman keras. Menurut dia, peran keluarga sangan penting untuk membendung kebiasaan minum minuman keras.

“Ini bukan suatu kegiatan seremonial, tetapi ini pengabdian kita terhadap bangsa. Papua. Hari ini, Papua penuh dengan konflik, Papua hari ini lebih banyak orang berbicara untuk kepentingan-kepentingan sesaat. Pelampiasannya cukup serius, dia lari kemana-mana, minuman keras dan sebagainya dan akibat dari situ juga masalah sosial cukup tinggi. Oleh karena itu benteng, kekuatan kita sebenarnya ada di dalam keluarga,” ujarnya Matius Awitouw di Jayapura, Senin (25/11).

Kepala UNICEF untuk Papua dan Papua Barat, Margareth Sheehan - yang terlibat dalam kegiatan tersebut - juga meminta agar semua pihak untuk mengakhiri kekerasan dalam berbagai bentuk. Pihaknya mengklaim kekerasan kerap terselubung karena tidak dilaporkan si korban. Dan, parahnya hal itu dianggap wajar oleh masyarakat.

UNICEF juga berharap pemerintah perlu memperkuat dan menerapkan peraturan yang melarang segala bentuk kekerasan. Warga juga harus didorong untuk melaporkan jika mengalami atau menyaksikan aksi kekerasan.

Sementara itu, dalam Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, sejumlah aktivis dan pemerintah melakukan aksi bagi bunga di jalan. Sejumlah lembaga yang tergabung dalam aksi tersebut antara lain: Badan PBB bidang Kesetaraan Jender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women), LBH Papua, Kontras Papua, Solidaritas Perempuan Papua, Majelis Muslim Papua, dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). (Khatarina Lita)

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pengelolaan Sisa Anggaran Lebih Kembali Disorot

Kabar Baru Jam 15

Bagaimana Pengaturan Sistem Zonasi? Apa Manfaatnya?