Satu Abad Berdiri, RS di Papua Tanpa Dokter Spesialis

Hampir satu abad atau 100 tahun berdiri hingga kini Rumah Sakit Daerah Kepulauan Yapen, Papua tidak memiliki dokter spesialis. Padahal rumah sakit yang berada di kota Serui tersebut, merupakan rumah sakit rujukan dari dua kabupaten pemekaran yakni kabupat

NUSANTARA

Selasa, 05 Nov 2013 10:54 WIB

Author

Radio Swara Nusa Bahagia

Satu Abad Berdiri, RS di Papua Tanpa Dokter Spesialis

Satu Abadi, RS, Papua, Dokter Spesialis

KBR68H, Jayapura – Hampir satu abad atau 100 tahun berdiri hingga kini Rumah Sakit Daerah Kepulauan Yapen, Papua tidak memiliki dokter spesialis. Padahal rumah sakit yang berada di kota Serui tersebut, merupakan rumah sakit rujukan dari dua kabupaten pemekaran yakni kabupaten Mamberamo Raya dan Waropen.

Direktur Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP) Aloysius Giay usai kunjungannya beberapa waktu lalu, mengatakan kondisi ini menjadi bukti buruknya pelayanan di Papua.

“Kita tahu bahwa rumah sakit Serui itu rumah sakit pertama di tanah Papua sejak tahun 1929. Namun rumah sakit Serui atau Dinas Kesehatan tidak memiliki satu dokter spesialias. Yang ada hanya dua dokter spesialis itupun dikontrak dari rumah sakit Biak.” ungkap Aloysius yang saat ini juga menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Abepura.

Tidak hanya masalah dokter spesialis, Ia juga menemukan masalah lainnya seperti, minimnya ketersediaan alat kesehatan, tidak adanya Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) sejak rumah sakit itu berdiri. Selain itu, buruknya managemen rumah sakit, hingga stok obat yang tidak sesuai peruntukannya sehingga pasien sering membeli obat di luar.

Aloysius Giay mengungkapkan, buruknya fasilitas dan pelayanan kesehatan itu karena lemahnya sistem pemerintahan. Apalagi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, pejabat bupatinya di daerah itu dipenjara karena korupsi. Persoalan lainnya adalah pelaksanaan Pilkada yang tertunda cukup lama.

“Saya tidak akan bicara soal rumah sakit lama itu kumuh, waduh mengerikan betul,” jelas Aloysius Giay,

Berdasarkan temuan ini, kata dia, pihaknya telah menindaklanjuti dengan mengeluarkan rekomendasi kepada pemerintah daerah setempat dan pemerintah Provinsi Papua. Sejumlah rekomendasi itu diantaranya, gar rumah sakit Serui yang lama segera dipindahkan ke rumah sakit yang baru sehingga bisa ditingkatkan dari tipe D ke C. Saat ini pemerintah setempat telah membangun rumah sakit baru, namun belum ditempati. Penyebabnya karena masih banyak kekurangan seperti belum adanya instalasi listrik, air bersih, dan pembuangan air limbah.

Rekomendasi lainnya yaitu, segera didatangkan dokter spesialis terutama dokter kandungan dan bedah, pengadaan alat kesehatan, pelatihan bagi petugas dan perawat. Serta yang terpenting, menurut Aloysius, adalah meminta kepada pemerintah dan DPRD setempat harus menganggarkan 15 persen dari total APBD mereka untuk sektor kesehatan.

UP2KP merupakan unit baru yang didirikan dalam masa kepemimpinan Gubernur Wakil Gubernur Papua, Lukas Enembe – Klemen Tinal. Tujuan utama pembentukan UP2KP ini adalah untuk mempercepat pembangunan kesehatan di Papua guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat menuju Papua sehat, Mandiri dan Sejahtera. (Andi Iriani)

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kiat Menjalani Isolasi Mandiri bagi Remaja Terinfeksi COVID-19

Bantu Sesama di Masa Pandemi

Kabar Baru Jam 8

Demi Oksigen Somasi Dilayangkan