Keterkaitan antara Debit Air di Jayapura dengan Pegunungan Cyclop

Pemerintah Provinsi Papua kesulitan merelokasi warga di Pegunungan Cyclop, satu-satunya daerah resapan air bersih untuk warga Kota Jayapura dan sekitarnya.

NUSANTARA

Kamis, 14 Nov 2013 18:40 WIB

Author

Radio Swara Nusa Bahagia

Keterkaitan antara Debit Air di Jayapura dengan Pegunungan Cyclop

Debit Air di Jayapura, Pegunungan Cyclop

KBR68H, Jayapura- Pemerintah Provinsi Papua kesulitan merelokasi warga di Pegunungan Cyclop, satu-satunya daerah resapan air bersih untuk warga Kota Jayapura dan sekitarnya.

Kepala Badan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Noak Kapisa menuturkan dua tahun belakangan ini pihaknya terus berupaya untuk memindahkan ribuan orang yang bermukim disana. Ia mengklaim pada tahun 2010 lalu, ada sekitar 30-an titik lokasi yang ditempati warga untuk bermukim dan membuat kebun di cagar alam Cyclop tersebut.

“Bagaimana caranya mau relokasi kembali. Pemerintah, dua tahun atau data terakhir ini mendekati mereka untuk bisa mereka keluar. Memang mereka bilang bahwa kami bisa keluar, tapi dimana kami kira-kira bisa tinggal untuk kira-kira bisa berkebun lagi,” tutur Noak Kapisa di Jayapura, Kamis (14/11).

Menurut dia, keberadaan warga di daerah itu memperngaruhi kondisi air di Jayapura.

“Yang jelas bahwa kita punya sumber-sumber air di Cyclop ada beberapa yang sudah kering dan indikasinya berarti sudah terganggu,” tambah Noak.

Sebelumnya, WWF Papua mencatat  kerusakan hutan di Cagar Alam Pegunungan Cyclop mencapai 1500 hektar dari luas total 22.500 hektar. Kerusakan disebabkan penebangan liar, pembangunan rumah penduduk di sekitar cagar alam dan pembukaan lahan berkebun.

Menurut WWF, seharusnya di dalam cagar alam tak boleh ada pembangunan. Apalagi Pegunungan Cyclop merupakan satu-satunya daerah resapan air untuk masyarakat di Kota dan Kabupaten Jayapura.

PDAM Jayaura juga mengeluh rusaknya cagar alam ini menyebabkan debit air di Kota Jayapura dan sekitarnya menurun drastis. Sebelumnya debit air bisa mencapai  850 liter/detik, saat ini hanya 200 liter/detik. (Katharina Lita)

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17