Bagikan:

Nelayan Rembang Meninggal saat Tengah Melaut

Jenazah diperkirakan tiba di Pelabuhan Tasikagung, pada Selasa malam, 25 Oktober 2022.

NUSANTARA

Selasa, 25 Okt 2022 18:39 WIB

Author

Musyafa

Nelayan Rembang Meninggal saat Tengah Melaut

Ilustrasi: Perahu yang tergulung ombak di pesisir pantai utara Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Sejumlah nelayan berupaya mengevakuasi, (05/12). Foto: KBR/Musyafa

KBR, Rembang– Satuan Kepolisian Air (Satpolair) Polres Rembang, Jawa Tengah, mengingatkan para nelayan di sana untuk tidak memaksakan diri berangkat melaut, jika sedang dalam kondisi sakit.

Imbauan ini disampaikan lantaran ada sejumlah nelayan meninggal di tengah laut karena sakit.

Kasus terbaru ialah seorang nelayan asal Rembang yang meninggal karena sakit saat berada di atas kapal. Nelayan tersebut bernama bernama Nur Kolis (41 tahun), warga Desa Waru, Rembang, anak buah kapal (ABK) KM Mulya 4.

Kepala Satuan Polisi Air Polres Rembang, Sukamto menjelaskan korban sakit saat melaut, kemudian dititipkan ke kapal lain yang akan pulang ke Pelabuhan Tasikagung, Rembang. Namun, di tengah pelayaran, korban meninggal. Jenazah diperkirakan tiba di Pelabuhan Tasikagung, pada Selasa malam, 25 Oktober 2022.

"Kapalnya posisi baru berangkat, lalu korban dititipkan ke kapal lain. Saat posisi akan pulang itulah, korban meninggal dunia. Info yang kami terima seperti itu. Nanti, kalau ada perkembangan kabar, kita sampaikan lagi," ujarnya.

Rentetan Kasus Nelayan Meninggal

Sukamto menambahkan, faktor kesehatan menjadi tolok ukur utama, sebelum nelayan berangkat melaut. Apalagi di kawasan pelabuhan juga sudah dibuka kantor layanan kesehatan.

Ia kembali mengimbau nelayan untuk tidak berangkat melaut ketika merasa tidak enak badan. Terlebih, kondisi cuaca di darat dan di laut, jauh berbeda.

"Di tengah laut, ombak dan angin lebih kuat, jadi dibutuhkan kondisi fit. Imbauan sudah sering kita sampaikan kepada pemilik kapal dan nahkoda, dicek betul kondisi kesehatan anak buah kapal (ABK) sebelum melaut. Syarat utama itu. Bisa saja karena terdesak kebutuhan ekonomi, nelayan tetap melaut, meski kondisi kurang fit," tutur Kasat Polair Sukamto.

Sebelumnya, pada 2013, seorang nelayan asal Turusgede, Rembang meninggal di tengah laut, karena sakit asmanya kambuh. Kemudian pada 2015 nelayan asal Kelurahan Tanjungsari meninggal di atas kapal, lantaran sakit.

Disusul serangkaian peristiwa berikutnya terjadi hampir setiap tahun. September 2022, nelayan warga Desa Pasar Banggi juga meninggal akibat sesak napas, saat kapalnya mencari ikan di sekitar Pulau Bawean Gresik, Jawa Timur.

Baca juga:

Editor: Sindu

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Kabar Baru Jam 7

Tergoda Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending