Kembangkan GeNose Pendeteksi Covid-19, UGM Minta Dukungan Sultan

"Maka pertengahan November mass productionnya sudah bisa mulai,“

BERITA | NUSANTARA

Selasa, 13 Okt 2020 11:43 WIB

Author

Ken Fitriani

Kembangkan GeNose Pendeteksi Covid-19, UGM Minta Dukungan Sultan

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X sedang merhatikan pendeteksi Covid GeNose di Gedhong Wilis Kompleks Kepatihan, Senin (12/10). (KBR/Ken)

KBR, Yogyakarta-   Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Panut Mulyono beserta peneliti GeNose  meminta restu dan dukungan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X terkait pengembangan alat inovasi pendeteksi Covid-19 (GeNose).  Saat ini alat tersebut sedang dalam persiapan uji diagnosis di sembilan rumah sakit. Bahkan bimbingan teknis untuk uji diagnosis pun sudah jalan.

Jika semuanya berjalan lancar, tim peneliti berharap pada pertengahan November 2020 atau paling tidak di akhir bulan, proses produksi massal GeNose bisa dimulai.

“Insyaallah kalau semuanya lancar. Ini kan kita sekarang dalam persiapan uji diagnostik di sembilan rumah sakit, bimbingan teknisnya sudah jalan. Kalau dari surat kelayakan LHU sudah keluar, PPFK, dan komite etik sudah meng-oke kan. Kemudian kita jalan 2-3 minggu maka pertengahan November mass productionnya sudah bisa mulai,“ ujar salah satu peneliti dr. Dian Kesumapramudya Nurputra di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, usai bertemu dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono, Senin (12/10/2020).

Kata dia produksi massal masih menunggu keputusan dari Kemenkes. Sebab, setelah uji diagnosis, ia dan tim harus melakukan presentasi ke Kemenkes. Jika hasil yang dikeluarkan alat betul-betul akurat, baru kemudian Kemenkes RI mengeluarkan izin edar.

Terkait status kegunaan alat ini, Dian menegaskan, untuk saat ini terlalu dini jika GeNose disebut alat diagnosis. Untuk bisa mencapai standar diagnosis, dari ilmu kedokteran mensyaratkan sebuah alat harus punya akurasi medis, meliputi sensitivitas, spesifisitas, dan Positive Predictive Value yang nilainya harus di atas standar.

“Karena belum ada hasil uji diagnosisnya, kita baru bisa mengatakan posisi alat ini sekarang masih bersifat alat screening mendampingi rapid test dan PCR,” katanya.

Dian menambahkan, hambatan dalam proses uji kliis dan uji diagnosis GeNose ini, lebih pada persoalan penyediaan plastik pembungkus udara nafas pasien yang akan diujikan.

“Saat ini kami masih mengandalkan jenis plastik yang dijual di pasaran dengan harga kisaran Rp40.000-Rp50.000 perplastik,“ ujar Dian.


Editor: Rony Sitanggang


(Redaksi KBR mengajak untuk bersama melawan virus covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan  3M, yakni;  Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun.)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Valentino Rossi Akan Kembali Ke Arena Balap Pada MotoGP Eropa

Kisruh Rencana Pengadaan Mobil Dinas Pimpinan KPK

Kabar Baru Jam 7

Nakesku Sayang, Nakesku Malang

Eps3. Ketika Burgermu Memanaskan Bumi