Kala Media Melirik Podcast

Dalam memproduksi konten, para podcaster yang menjadi narasumber pada episode kedua ini mengaku memiliki satu masalah yang sama, yaitu bagaimana supaya sumber daya tidak habis, bagaimana membuat konten yang selalu baru.

NUSANTARA | INTERMEZZO

Jumat, 09 Okt 2020 11:54 WIB

Author

Elysa Rosalina

Kala Media Melirik Podcast

Narasumber di KBR Prime Podcast Party S2 “All Ears on Podcast Now” - Flocking to Podcast, Rabu (7/10/2020)


KBR, Jakarta– Perkembangan teknologi digital dan banyaknya penggemar podcast secara tidak langsung mendorong banyak orang, termasuk media, untuk ikut memproduksi podcast.

Tak sedikit media yang berbondong-bondong memproduksi podcast dengan kreasinya masing-masing. Mengapa?

KBR Prime Podcast Party S2 “All Ears on Podcast Now” - Flocking to Podcast, mengulik ini bersama orang-orang media yang berada di balik layar produksi podcast, Rabu, 7 Oktober 2020 di Hotel Ibis Styles, Tanah Abang Jakarta

Kalau menurut Philipus Perera dari Podcast Tempo, medianya ikut memasuki dunia podcast karena sejalan dengan strategi Tempo, yaitu masuk ke dunia digital. “Gak eloklah kalau cuma sekedar teks majalah, jadi Tempo sejak beberapa tahun lalu udah bikin divisi multimedia, dalam langkah mempersiapkan kami (Tempo) masuk ke digital,” tutur Philips via zoom.

Tempo menganggap podcast harus menjadi salah satu produk wajib, apalagi akhir-akhir ini. Tempo memiliki target untuk menggaet lebih banyak audiens muda.

Namun, sebagai media investigasi, Tempo belum berani memproduksi podcast investigasi. “Kami sampai sekarang memang belum memproduksi podcast investigasi, kami masih menyusun bagaimana supaya nanti podast investigasi ini tidak terlalu serius dan bisa menarik audiens,” kata Philipus.

Beda halnya dengan Asumsi Bersuara, yang memang dari awal sudah didesain sebagai platform podcast yang isinya sesuai dengan topik di Asumsi.co.

“Biasanya podcast yang dibuat lebih ke bagaimana untuk bisa membahas sebuah isu dengan lebih santai dan harapannya audiens yang tadinya ga tau banyak, jadi lebih ada bayangan terkait isu yang sedang hangat,” kata Rayestu.

Isu yang sedang hangat di tengah masyarakat memang mampu menarik banyak audiens. Oleh sebab itu, Asumsi Bersuara biasanya mengangkat isu tersebut dan kemudian mengundang narasumber yang sesuai.

“Kita biasanya mengangkat isu yang lagi rame, kemudian kita akan angkat di podcast minggu depan. Jadi memang kontennya fleksibel, tergantung yang lagi hangat,” jelas Rayestu

MNC yang memiliki empat radio juga menyadari bahwa mereka juga harus mulai beralih ke digital. Sampai akhirnya, muncullah keputusan untuk ikut memproduksi podcast. Aplikasi ROOV pun dibuat, sebagai platform khusus untuk menampung podcast dan siaran radio se-Indonesia. ROOV adalah bagian dari RCTI+, yang menyebut diri sebagai “audio entertainment universe”. 

Program and Content Division Head at MNC Radio Networks. yang juga mewakili ROOV, Leli Kamal mengatakan orang-orang radio senang dengan adanya podcast, karena bisa mengedukasi masyarakat dengan tayangan entertainment yang berbentuk audio.

”Kita di awal tidak berpikir harus langsung podcast, namun kita melihat tayangan konten apa ya yang kira-kira bisa kita adopsi untuk buat suatu kreatif di digital, akhirnya kita melihat podcast sedang hype dan muncul ide untuk memproduksinya,” ungkap Leli.

Berbeda dengan yang lain, Kaskus merupakan sebuah komunitas yang kemudian memberikan kesempatan untuk anggotanya memproduksi podcast.

“Awalnya Kaskus punya kaskus creator, yaitu para penulis yang nulis di kaskus dan itu berbayar, dari situ kita mikir ternyata banyak juga yang ikutan. Akhirnya muncul lah ide gimana kalo bikin podcast juga dan ternyata emang banyak juga peminatnya,” tutur Abbecede

“Kalau ngomongin soal konten tadi, kita berangkat dari tren karena emang basednya kita adalah community, kita menggarab sumber daya yang kita punya, yaitu temen-temen komunitas kita,” tambah Aga Gonzaga dari Podcast Kaskus.

Suasana KBR Prime Podcast Party S2 “All Ears on Podcast Now” - Flocking to Podcast, Rabu (7/10/2020) di Hotel Ibis Styles, Tanah Abang Jakarta

Sementara Coki dari PodMe mengatakan, konten di PodMe adalah konten original, bukan mengambil dari TV.

“Ada 33 podcast keseluruhan, yang diambil dari TV cuma dua, selainnya memang original konten yang sejak awal kita berkolaborasi dengan podcaster,” jelasnya. Untuk pemilihan konten, PodMe biasanya lebih banyak membahas seputar lifestyle dan entertainment.

Dalam memproduksi konten, para podcaster yang menjadi narasumber pada episode kedua ini mengaku memiliki satu masalah yang sama, yaitu bagaimana supaya sumber daya tidak habis, bagaimana membuat konten yang selalu baru.

Mereka sepakat, konten yang selalu baru ini yang harus diusahakan oleh semua podcaster, sehingga berhasil menarik lebih banyak audiens dan semakin memajukan dunia podcast ke depannya.

Nah, untuk Anda yang tertarik memproduksi podcast, jangan lupa ya untuk selalu memperhatikan kekinian konten, agar banyak brand yang mulai melirik podcast Anda. Lumayan kan, dari podcast bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. (eka)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Belgia Kewalahan Hadapi Gelombang Pandemi

Penerimaan Masyarakat terhadap Vaksin Covid-19 Masih Rendah

Ronde 6 - Petani Tembakau

Kabar Baru Jam 8