Saksi Pembunuhan Salim Kancil Belum Bersedia Bersaksi, Ini Langkah LPSK

Sebab kata dia, belum semua saksi yang diajukan Walhi bersedia memberikan kesaksiannya ke kepolisian.

BERITA | NUSANTARA

Sabtu, 03 Okt 2015 20:58 WIB

Author

Ninik Yuniati

Saksi Pembunuhan Salim Kancil Belum Bersedia Bersaksi, Ini Langkah LPSK

RIP Salim Kancil. (Foto: Twitter@Komunalstensil)

KBR, Jakarta - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyebut, enam dari 12 orang saksi kasus penganiayaan Tosan, dan pembunuhan Salim Kancil, saat ini masih mengalami trauma dan ketakutan.

Anggota LPSK Lili Pintauli Siregar mengatakan, pihaknya tengah memberi pendampingan psikologi kepada para saksi kasus penolakan penambangan pasir ilegal di Lumajang, Jawa Timur, tersebut. Sebab kata dia, belum semua saksi yang diajukan Walhi bersedia memberikan kesaksiannya ke kepolisian.

"Menurut LPSK setelah koordinasi dengan kepolisian, ada kebutuhan beberapa saksi yang harusnya bisa memberikan penjelasan. Mungkin secara psikologis, ketraumaan itu, ketakutan mereka itu cukup tinggi untuk tidak berani, jadi kita mencoba untuk mendorong. Sehingga lebih pada psikologi yang belum kita sentuh, baik oleh pemerintah setempat maupun kepolisian, dan itu menjadi tujuan LPSK dalam waktu dekat untuk memberikan perlindungan, baik fisik maupun psikologi," kata Lili kepada KBR, Sabtu (3/10).

Anggota LPSK Lili Pintauli menilai, para saksi tidak perlu dievakuasi ke tempat khusus. Ini lantaran perlindungan keamanan yang diberikan kepolisian sudah mencukupi.

"Menurut kita tidak perlu melakukan evakuasi atau memindahkan ke mana pun baik saksi kunci maupun saksi yang lain, karena sudah ditempatkan aparat yang menjaga mereka," lanjutnya.

Sebelumnya, aktivis antitambang ilegal dari Desa Selok Awar-awar, Lumajang, Jawa Timur, Salim alias Kancil dibunuh puluhan preman protambang ilegal. Salim dibunuh secara keji dan tidak manusiawi. Sementara seorang aktivis lainnya, Tosan, berhasil lolos dari upaya pembunuhan, dan saat ini masih dirawat di rumah sakit di Malang.

Beberapa pihak menduga Kepala Desa setempat, Hariono, menjadi dalang penganiayaan dan pembunuhan tersebut. Dalam kasus ini polisi menetapkan 23 tersangka. Sementara kades Hariyono ditetapkan tersangka untuk dua kasus, yakni penambangan ilegal, dan pembunuhan.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kesiapan Mental sebelum Memutuskan Menikah

Kabar Baru Jam 8

Setahun Pandemi dan Masalah "Pandemic Fatigue"

Kabar Baru Jam 10