Pembunuhan Salim Kancil, Kompolnas Sebut Polres Lumajang Tak Responsif

Kondisi ini berbeda dengan kinerja kepolisian setelah tragedi pembunuhan Salim Kancil terjadi.

BERITA , NUSANTARA

Sabtu, 03 Okt 2015 19:15 WIB

Author

Ninik Yuniati

Pembunuhan Salim Kancil, Kompolnas Sebut Polres Lumajang Tak Responsif

RIP Salim Kancil. (Foto:Twitter@komunalstensil)

KBR, Jakarta - Kepolisian Resor Lumajang, Jawa Timur dinilai tidak responsif dalam menanggapi laporan warga Desa Selok Awar-Awar yang berujung pada penganiayaan Salim Kancil hingga tewas, akhir September lalu. Ini diungkapkan Anggota Kompolnas Hamidah Abdurrahman setelah melakukan penyelidikan di Lumajang.

Menurutnya, dengan mengabaikan laporan pada 10 September tersebut, polisi gagal memahami potensi konflik yang ada. Kondisi ini berbeda dengan kinerja kepolisian setelah tragedi pembunuhan Salim Kancil terjadi.

"Pasca tanggal 26 itu saya kira polisi sangat responsif, cepat sekali menangani kasus tersebut, dalam waktu enam hari itu sudah menyelesaikan pemeriksaan terhadap 23 orang. Yang tanggal 10 itu ada tindakan kepolisian yang tidak maksimal, saya kira semua bagian dari kepolisian, dari mulai tingkat polsek, polres ini, memang boleh dikatakan kurang respon bukan lalai, terhadap potensi konflik yang mungkin timbul, dan itu sudah ada tanda-tandanya sebelumnya," kata Hamidah kepada KBR, Sabtu (3/10).

Hamidah Abdurrahman menambahkan, pihaknya telah menyerahkan laporan dugaan pelanggaran kepada Inspektur Pengawas Daerah (Irwasda) Polda Jawa Timur. Nantinya, laporan Kompolnas dan Irwasda akan diserahkan kepada Kapolri.

Sebelumnya, aktivis antitambang ilegal dari Desa Selok Awar-awar, Lumajang, Jawa Timur, Salim alias Kancil dibunuh puluhan preman protambang ilegal. Salim dibunuh secara keji dan tidak manusiawi. Sementara seorang aktivis lainnya, Tosan, berhasil lolos dari upaya pembunuhan, dan saat ini masih dirawat di rumah sakit di Malang.

Beberapa pihak menduga Kepala Desa setempat, Hariono menjadi dalang penganiayaan dan pembunuhan tersebut. Dalam kasus ini polisi menetapkan 23 tersangka. Sementara kades Hariyono ditetapkan tersangka untuk dua kasus, yakni penambangan ilegal, dan pembunuhan. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17