Pembongkaran Cagar Budaya Rumah Pecinan di Banyumas Menuai Protes

Rumah Pecinan itu dahulu pernah menjadi kantor perusahaan ekspor impor pada awal abad 20-an dan pernah berubah menjadi tempat tinggal.

BERITA | NUSANTARA

Senin, 05 Okt 2015 11:42 WIB

Author

Muhamad Ridlo Susanto

Pembongkaran Cagar Budaya Rumah Pecinan di Banyumas Menuai Protes

Dokumen penetapan Rumah Pecinan Sokaraja sebagai Bangunan Cagar Budaya Banyumas. (Foto: M Ridlo/KBR/IHA)

KBR, Banyumas – Pegiat sejarah dan pelestari budaya Banyumas mengecam pembongkaran Cagar Budaya Rumah Pecinan di Sokaraja Kabupaten Banyumas.

Rumah Pecinan yang dibangun tahun 1900-an itu merupakan simbol keberadaan masyarakat etnis Tionghoa sejak ratusan tahun lalu.

Pamong Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Imam Hamidi Antasalam mengatakan bangunan kuno tersebut disahkan sebagai Bangunan Cagar Budaya sejak 5 Oktober 2004.

Rumah Pecinan itu dahulu pernah menjadi kantor perusahaan ekspor impor pada awal abad 20-an dan pernah berubah menjadi tempat tinggal.

Ini merupakan pembongkaran kedua terhadap warisan budaya di Banyumas. Sebelumnya, pada Maret 2015, Pabrik Gula Kalibagor Banyumas yang didirikan 1839 dan ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya pada 2009 juga dibongkar.

"Pembongkaran Cagar Budaya Rumah Pecinan di Sokaraja itu kami tidak habis pikir. Kami sudah melakukan upaya agar pembongkaran cagar budaya tidak terjadi lagi. Misalnya dengan aksi, sosialisasi dan publikasi. Bahkan kami juga membuat film dokumenter yang berjudul jejak warisan yang terlupakan," kata Imam Hamidi, Senin (5/10).

Pegiat Banyumas Heritage, Chandra Iswinarno mengatakan reaksi penolakan atas pembongkaran Rumah Pecinan ini tidak hanya muncul di Banyumas saja, tetapi juga dari luar daerah.

Chandra mengatakan aksi pembogkaran ini merupakan kehilangan besar karena menyangkut pembongkaran bangunan sejarah yang penting bagi Banyumas dan Indonesia secara keseluruhan.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Aplikasi LAPOR Dinilai Tidak Efektif Tanggapi Laporan Masyarakat

Kabar Baru Jam 15

Perlukah Sertifikasi Pernikahan?