ISPA dan Debu Galian C di Teluk Palu

KBR, Palu

NUSANTARA

Minggu, 12 Okt 2014 18:30 WIB

Author

Irvan Imamsyah

ISPA dan Debu Galian C di Teluk Palu

Palu, ISPA, Galian C, Tambang, Portalkbr

KBR, PaluJumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kelurahan Watusampu, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu, Sulawesi Tengah terus bertambah setiap tahun. Beberapa warga yang datang ke Puskesmas yang terkena ISPA bahkan mengaku  batuk-batuk darah. Itu sebab, Pemerintah Kota Palu didesak untuk segera memastikan, apakah kegiatan tambang menjadi kerok atas maraknya kasus ISPA di sana.

Di jalan Trans Sulawesi menuju Donggala, kepulan debu tampak pekat. Siang itu, Hamidah, sibuk menyapu lantai Puskesmas Pembantu di Kelurahan Watusampu, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Bidan Puskesmas Pembantu itu bercerita, dirinya menyapu lantai setiap jamnya. Dia tak ingin, para pasien yang datang berobat ke Puskesmas terganggu dengan kepulan debu.

“Coba saja, seret jari telunjuk di atas meja, pasti akan tampak debu-debu halus. Setiap saat meja saya dibersihkan, hanya selang beberapa menit saja sudah berdebu kembali. Tak sampai setengah jam sudah tertutup debu lagi,” jelas Hamidah.

Kepulan debu akibat kegiatan tambang galian C di Kelurahan Watusampu mulai membuat warga prihatin. Setiap mereka datang ke Puskesmas, keluhan warga selalu sama, debu dari kegiatan tambang.

Di Kelurahan Watusampu yang berbatasan dengan Kabupaten Donggala, ada lebih dari enam perusahaan Tambang Galian C. Lokasi tambang yang beroperasi bahkan tak jauh dari permukiman warga. Di sana para pekerja, memotong bukit dan gunung yang ada di sepanjang Teluk Palu. Setelahnya semua sumber material berupa pasir dan kerikil dikumpulkan perusahaan di tepi pantai Teluk Palu. Material tambang akhirnya dipindahkan ke dalam kapal tongkang untuk dikirim ke Balikpapan Kalimantan Timur dan juga untuk kebutuhan reklamasi di Teluk Palu.

Wisran, Ketua Rukun Warga di daerah itu mengatakan dampak penambangan pasir dan kerikil sudah cukup parah. Bahkan menurutnya, banyak warga yang tak sadar kalau mereka menerita infeksi saluran pernapasan aku (ISPA). “Beberapa warga bahkan ada yang sampai batuk darah karena pengaruh kegiatan tambang,” tegas Wisran.

Kecurigaan Wisran juga dirasakan Hamidah, pengelola Puskesmas Pembantu di Watusampu. Saat ditemui di tempatnya bekerja, Hamidah mengatakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terus meningkat setiap tahunnya. Sepanjang 2012, ada 556 kasus ISPA yang terdata. Jumlah pengidap ISPA tak berhenti sampai di situ, pada 2013 jumlah kasus penyakit itu mencapai 618 kasus. Sementara hingga Agustus tahun ini, dia mencatat ada 400-an warga yang mengidap ISPA.

“Dalam sepuluh penyakit terbesar di sini, tertinggi ISPA. ISPA sampai 500 – 600 kasus per tahun. Kalau penyakit lain seperti ulu hati hanya 200-an. Agustus ini ada 64 kasus ISPA. Itu terbagi dua, anak-anak 24 kasus dan dewasa 40 kasus,” papar bidan berusia 41 tahun itu.

Selain ISPA, sejumlah pasien juga kerap mengeluh sakit karena batuk berdarah. Hamidah menduga paru-paru sejumlah warga mengalami gangguan yang sangat serius. “Itu harus kita rujuk ke rumah sakit besar. Harus diperiksa apakah paru-parunya parah atau karena hal lain. Bisa saja dari debu. Batuk darah biasanya cenderung tubercolosis, jadi juga bisa dari kuman, bakteri dan lainnya.” jelasnya.

Dari semua faktor pemicu, debu kata Hamidah juga menjadi satu faktor yang bisa memicu ISPA. Tapi apakah hal itu terkait dengan dampak penambangan galian C? Hamidah tak yakin seratus persen. Menurutnya masih harus diteliti lebih jauh lagi.

“Mungkin ada dari mana untuk meneliti. Dari Walhi atau Dinas Kesehatan untuk meneliti penyakit ini. Apakah betul Galian C ini menyebabkan ISPA. Itu sebab saya tak mau patok ISPA karena pengaruh Galian C. Harus ada penelitian dari bagian epidemologi. Tapi pemerintah kota tak pernah datang kemari untuk memeriksa. Padahal sudah ramai berita soal ISPA dan tambang Galian C di koran-koran.”

Hamidah mengaku belum mengadukan fenomena ini ke Dinas Kesehatan Kota Palu. Kecuali saat penyakit kulit mewabah di Kelurahan Watusampu. Waktu itu ada 110 kasus scabies dan 103 kasus alergi kulit. “Dulu banyak penyakit kulit, itu yang saya laporkan. Pas dikirimkan tim untuk memeriksa, ternyata bukan karena air, tapi karena kebersihan. Jadi menurut analisa saya, penyakit kulit banyak terjadi karena masyarakat malas buka pintu. Jadi otomatis rumah lembab kurang masuk cahaya, dan kuman senang berkembang biak di tempat lembab.”
 
Di sepanjang 12 kilometer panjang jalan Kelurahan Watusampu, tak ada warga yang berkeliaran atau berkegiatan di luar rumah. Semua pintu dan jendela rumah mereka juga tertutup rapat, termasuk ventilasi untuk sirkulasi udara. Menurut penelusuran Hamidah, warga menutup rumah rapat-rapat karena khawatir dengan kepulan debu kegiatan tag galian C. “Saya mengimbau, ventiliasi harus diperhatikan. Kalau sirkulasi udara di rumah tak bagus, pasti banyak penyakit,” tukas Hamidah menambahkan.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kenali dan Obati Katarak Sejak Dini

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12