Ini Penyebab PT Pupuk Iskandar Muda Rawan Bangkrut

PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) dinyatakan rawan bangkrut. Ini menyusul masih tingginya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) terhadap bahan baku gas alam cair yang mencapai US$10 per Million Matrix British Thermal Unit (MMBTU).

NUSANTARA

Senin, 13 Okt 2014 11:37 WIB

Author

Erwin Jalaluddin

Ini Penyebab PT Pupuk Iskandar Muda Rawan Bangkrut

PT Pupuk Iskandar Muda, Bangkrut

KBR, Lhokseumawe – PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) dinyatakan rawan bangkrut. Ini menyusul masih tingginya Harga Pembelian  Pemerintah (HPP) terhadap bahan baku gas alam cair yang mencapai US0 per Million Matrix British Thermal Unit (MMBTU).

Menteri Pertanian, Suswono mengatakan, patokan HPP gas tersebut berdampak terhadap terkurasnya pembiayaan. Terlebih, bila pemerintah menghentikan segala subsidi untuk bahan baku operasional Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN)

”Tapi, memang saat ini HPP-nya paling tinggi, sehingga tidak efisien. Kalau suatu saat tidak ada lagi subsidi, tentu PIM akan tutup. Untuk sementara secara bertahap kemungkinan akan ada pengurangan subsidi untuk pupuk. Artinya, tidak secara langsung,” kata Suswono menjawab Portalkbr, Lhokseumawe, Senin (13/10).

Menurutnya, Pemerintah harus mengkaji ulang HPP gas demi kelangsungan operasional PIM di Aceh. Ini Mengingat PT bertanggung jawab menjamin pendistribusian pupuk bersubsidi di lima provinsi wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.

Sebelumnya, Pemerintah telah menunjuk PT Pupuk Sriwidjaja Holding sebagai induk perusahaan PT PIM. Berdasarkan surat dari PT Pusri (Persero) No. U-909/A00000.UM/2011 pada tanggal 11 Agustus tahun 2011, PIM ditugaskan untuk pengadaan dan pendistrubusian pupuk urea bersubsidi untuk provinsi di wilayah kerjanya.

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17