Tujuh Kecamatan di Kulonprogo Rawan Longsor

KBR68H, Kulonprogo - Tujuh kecamatan di Kulonprogo rawan longsor memasuki musim penghujan ini. Data yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo menyebutkan wilayah rawan longsor tersebut berada di Kecamatan Girimulyo, Kokap, S

NUSANTARA

Kamis, 31 Okt 2013 13:30 WIB

Author

Radio Starjogja

Tujuh Kecamatan di Kulonprogo Rawan Longsor

tujuh kecamatan, kulonprogo, rawan longsor

KBR68H, Kulonprogo - Tujuh kecamatan di Kulonprogo rawan longsor memasuki musim penghujan ini. Data yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo menyebutkan wilayah rawan longsor tersebut berada di Kecamatan Girimulyo, Kokap, Samigaluh, Kalibawang, Temon bagian utara, Nanggulan, dan Pengasih.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kulonprogo, Suhardiyana, mengatakan untuk meminimalkan risiko bencana sudah dipasang extensiometer atau alat pemantau pergerakan tanah di daerah rawan longsor yang di dalamnya terdapat pemukiman penduduk, yakni di Dusun Nglambur, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh dan Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo.

Kendati demikian, ia tetap berharap kewaspadaan dari warga setempat karena mereka lebih hafal dengan kondisi alam di sekitar tempat tinggal. “Dengan kearifan lokal tetap dibutuhkan kesadaran masyarakat karena pemasangan alat hanya mendukung deteksi dini,” ujarnya, Rabu (30/10).

Kepala BPBD Kulonprogo, Untung Waluyo, menyebutkan, tingkat kerawananan longsor di kecamatan-kecamatan tersebut sama. Namun, jika melihat pada pengalaman tahun lalu, potensi terbesar berada di wilayah Kecamatan Girimulyo. “Untuk titik-titik persisnya kami tidak bisa menyebutkan, hanya gambaran secara umum saja,” tukasnya.

Demikian pula halnya dengan jumlah warga yang terancam, ia mengaku tidak bisa menyebutkan secara pasti karena belum mampu melakukan penghitungan. Hal ini terkendala dengan kondisi geografis Kulonprogo yang sebagian besar berada di kemiringan. “Jadi tidak bisa semata-mata dihitung berdasarkan jumlah KK di tiap kecamatan,” tegas Untung.

Diharapkannya, warga peka terhadap perubahan alam, seperti munculnya sumber-sumber mata air yang sebelumnya tidak ada. Sebab, ada kemungkinan mata air ini muncul karena rekahan tanah di tebing yang terisi air hujan dan berpotensi menimbulkan longsor.
Selain, tanah longsor bencana yang mengancam di musim ini adalah banjir bandang. Wilayah yang rawan meliputi desa-desa yang berada di sepanjang pinggiran Sungai Progo mulai dari Banjaroya, Banjarharjo, Banjararum (Kecamatan Kalibawang), ke selatan Wijimulyo (Kecamatan Nanggulan), Tuksono (Sentolo), hingga Brosot dan Banaran (Galur).

Sumber: Radio Star Jogja

Editor: Doddy Rosadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18