covid-19

Ridwan Kamil Duga Ada Sindikat Pemalsu Data Sertifikat Vaksin Covid-19

"Itu sudah saya titipkan ke Pak Kapolda, jangan-jangan ini ada komplotan atau skalanya masif. Jadi kita harus selidiki apakah ini hanya 'receh-receh kecil' atau sistematis ya,"

BERITA | NUSANTARA

Senin, 20 Sep 2021 13:51 WIB

Ridwan Kamil Duga Ada Sindikat Pemalsu Data Sertifikat Vaksin Covid-19

Tersangka sertifikat vaksin palsu di Aula Ditlantas Polda Jabar, Bandung, Jawa Barat, Selasa (14/9/2021). (Antara/Raisan Al Farisi)

KBR, Bandung - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menduga adanya sindikat pemalsu data sertifikat vaksin covid-19.

Menurutnya, salah seorang tersangka pemalsu data sertifikat vaksin adalah bekas relawan penanggulangan covid-19 di provinsi itu.

"Itu sudah saya titipkan ke Pak Kapolda, jangan-jangan ini ada komplotan atau skalanya masif. Jadi kita harus selidiki apakah ini hanya 'receh-receh kecil' atau sistematis ya," ujar Ridwan Kamil dikutip dari kanal YouTube Jabar Prov TV, Senin (20/9/2021).

Ridwan Kamil meminta Polda Jawa Barat menuntaskan kasus ini, agar kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah tidak luntur.

Baca: Kepolisian Jabar Tangkap Empat Tersangka Pemalsu Data Sertifikat Vaksin

"Saya kira ini bagian dari dinamika di mana kriminalitas selalu ada dalam setiap proses covid-19 ini. Dari kriminalitas bansos, kriminalitas sertifikat, kriminalitas tidak menyuntikan atau bekas," ungkapnya.

Pekan lalu, Polda Jawa Barat menangkap empat tersangka pemalsu data sertifikat vaksin COVID-19.

Kapolda Jabar, Ahmad Dofiri menyebut, seluruh data palsu itu dicantumkan di sertifikat asli vaksinasi covid-19.

"Itu dua kali (kasusnya), dua minggu yang lalu itu ada dan minggu kemari ada. Ada dua yang sudah kita tangani, terakhir ada tiga orang pelakunya sampai sekarang masih kita proses. Yang kita sesalkan memang mereka ini asalnya dari relawan, jadi mencederai relawan lain yang sudah sungguh-sungguh menjadi relawan, untuk melaksanakan kegiatan vaksinasi tetapi ada oknum yang memanfaatkan," katanya.

Seorang pelaku pemalsu data ini dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen, dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), dengan ancaman pidana maksimal 12 tahun penjara. Sementara tiga lainnya dijerat dengan UU ITE.

Berita terkait:


Editor: Kurniati Syahdan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Semai Toleransi ala Anak Muda Bandung