Ribuan Perajin Tikar Pandan Khas Pegunungan Cilacap Krisis Bahan Baku

Banyak tanaman pandan mati karena serangan hama dan penyakit.

BERITA | NUSANTARA

Jumat, 04 Sep 2020 07:41 WIB

Author

Muhamad Ridlo Susanto

Ribuan Perajin Tikar Pandan Khas Pegunungan Cilacap Krisis Bahan Baku

Kerajinan anyaman dalam pameran produk UMKM di Jakarta. Foto: Antara

KBR, Cilacap– Perajin tikar pandan khas pegunungan Cilacap di Desa Pesahangan, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah kekurangan bahan baku.

Pasalnya, kini banyak tanaman pandan mati karena serangan hama dan penyakit.

Seorang petani sekaligus perajin, Bapung Dikin mengatakan sebelumnya pandan bisa diperoleh dengan mudah di tepi hutan.

Namun, lantaran kekurangan bahan baku, banyak warga yang lantas menanam di ladang. Sayangnya, setelah puluhan tahun tanaman pandan itu mati.

Padahal, kata dia, tikar pandan telah menjadi kerajinan khas Desa Pesahangan. Secara turun temurun, warga bisa menganyam pandan.

Di Pesahangan ada yang menjadikan menganyam pandan sebagai keterampilan dan untuk pendapatan tambahan keluarga.

“Sebenarnya hilangnya karena codot (hama seperti tikus). Jadi tidak bisa tumbuh, Harus disemprot pertanian. Ya jelas kekurangan, banyak kekurangan. Nyarinya biasanya di kebun-kebun, Tapi sekarang tidak bisa tumbuh. Kalau sekarang ya beli saja ke Brebes, Cianjur, Pangandaran,” kata Bapung Dikin.

Bapung Dikin menambahkan dengan penambahan biaya transportasi untuk mendapat bahan baku, keuntungan perajin semakin tipis.

Akan tetapi, demi menyambung hidup, perajin tetap menganyam meskipun pendapatannya jadi jauh berkurang. Terlebih pada masa pandemi Covid-19, tak banyak yang bisa dilakukan warga.

Selain itu, kualitas bahan baku dari daerah dataran rendah juga berbeda dengan pandan pegunungan. Pandan pegunungan lebih liat meski tipis.

Sedangkan pandan dari daerah dataran rendah, apalagi kawasan pantai, tebal tetapi lebih mudah patah.

Karena itu dia berharap agar pemerintah memerhatikan para perajin tikar pandan.

Editor: Sindu Dharmawan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPD: Menunda Pilkada Lebih Baik Ketimbang Keluarkan Perpu

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14