Mencicipi Kopi Racikan Barista Disabilitas dan Eks Napi di Kedai Kopi Berikut Ini

Hampir seluruh pegawainya adalah difabel tunadaksa dan tunarungu.

NUSANTARA | KABAR BISNIS

Jumat, 20 Sep 2019 23:51 WIB

Author

Valda Kustarini

Mencicipi Kopi Racikan Barista Disabilitas dan Eks Napi di Kedai Kopi Berikut Ini

Barista tunanetra, Ilham Febriyanto tengah menyeduh kopi untuk peserta Special City Tour Barista Inklusif di Jakarta, Sabtu (14/9). Foto: Valda Kustarini

KBR, Jakarta- Kedua tangannya bergerak cekatan di atas meja dengan beberapa peralatan pembuat kopi. Ia adalah Ilham Febriyanto, seorang barista tunanetra dari Blind Coffee. Ilham menuang bubuk kopi ke dalam alat seduh kopi terbuat dari anyaman bambu yang dibentuk menyerupai alat seduh kopi V60. Setelah itu, tangan kanannya meraih teko leher angsa dan menuangkan air panas di dalamnya dengan gerakan melingkar secara perlahan. 

Tak berapa lama secangkir kopi V60 racikan pria 29 tahun itu sudah tersaji. Siang itu Ilham menunjukkan kebolehannya di hadapan 15 peserta Special City Tour Barista Inklusif yang diselenggarakan komunitas wisata budaya Koko Jali. Ada tiga kedai kopi yang hari itu akan dikunjungi, Sabtu (14/9). Ketiganya bukan kedai biasa, melainkan kedai kopi dengan barista-barista istimewa. 

Kedai kopi pertama yang dikunjungi adalah Join X Jeera. Kedai ini dikelola para bekas narapidana, serta para napi yang masih menjalani hukuman. Lokasinya berada di sebelah sebelah kantor imigrasi Jakarta Barat. Kedai kopi Join x Jeera diinisiasi Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) sejak 2015. Kedai ditujukan sebagai wadah pembinaan para narapidana agar memiliki keterampilan dan nantinya siap kembali ke masyarakat.

Salah satu barista napi yang masih menjalani hukuman, Ahmad Nur mengatakan narapidana yang bekerja di Join X Jeera adalah yang telah mendapatkan pelatihan saat masih di tahanan. Ia selama enam bulan mengikuti pelatihan barista yang diberikan Jeera Foundation. Kata dia, hanya napi yang memiliki catatan baik yang bisa bekerja di Join X Jeera.

"Ada syaratnya, harus napi yang mau keluar dan yang punya catatan baik. Kan mau bekerja jadi biar tidak mengulangi (terjerat kasus) lagi," kata Ahmad Nur di Join X Jeera, Sabtu (14/9/2019).

Sebagai barista napi Ahmad ingin menghapuskan stigma negatif yang melekat pada narapidana. Ia ingin membuktikan bahwa narapidana tidak berbeda dengan orang-orang yang belum pernah masuk penjara. Selepas ia bebas nantinya, Ahmad bercita-cita membuka kedai kopi miliknya sendiri.

Menu andalan di Join X Jeera adalah kopi paradise. Kopi dengan dua shot espresso ini memiliki kopi dengan tiga lapisan. Cara meminumnya adalah dengan menyedot dari lapisan paling bawah ke atas, sehingga pengunjung akan merasakan rasa pahit ke manis.

Pada tur kali ini, Join x Jeera bekerja sama dengan Blind Coffee memberikan kesempatan pada barista tunanetra untuk meracik kopi dengan teknik seduh manual atau manual brew. Ilham yang sudah diceritakan di awal, adalah salah satunya. 

Sunyi House of Coffee and Hope

Di tempat kedua, pengunjung diajak ke salah satu kedai kopi di wilayah Fatmawati, Jakarta Selatan. Meski bernama Sunyi House of Coffee and Hope tempat ini jauh dari kata sunyi, justru kedai ini terlihat sibuk dengan pengunjung yang memenuhi ruangan. Mario Gultom pendiri kedai kopi ini memberikan peluang bagi para penyandang disabilitas. Hampir seluruh pegawainya adalah difabel tunadaksa dan tunarungu.

Ide membuka kedai kopi dengan pekerja difabel muncul saat Mario melihat kesenjangan terhadap penyandang disabilitas. Ia lantas berinisiatif membuka lapangan pekerjaan dengan memberikan kesempatan pada teman-teman difabel. Sebab, menurutnya para penyandang disabilitas bukan tidak bisa bekerja namun tidak ada kesempatan untuk mereka. Padahal para penyandang disabilitas tidak kalah terampil.

"Waktu perekrutan di sini saya tidak mensyaratkan apa-apa selain mereka adalah disabilitas. Kalau saya kasih persyaratan sudah pernah bekerja ya salah, justru saya harus kasih mereka pengalaman bekerja," kata Mario di Sunyi House of Coffee and Hope, Sabtu (14/9/2019).

Tidak hanya mempekerjakan para disabilitas, Mario juga memberikan kesempatan pada teman-teman yang memiliki autisme memamerkan karya mereka. Mario sengaja membuat tempat khusus untuk memamerkan karya mereka. Mulai dari kerajinan tangan hingga tote bag karya teman-teman dengan autisme dijual di sana.

"Ini supaya memberikan kesempatan dan mereka merasa memiliki tempat ini," katanya.

Menu andalan yang di kedai kopi ini adalah kopi susu sunyi. Yaitu kopi susu dengan base espresso ditambah susu, dengan after taste yang tidak terlalu pahit.

Menggunakan Bahasa Isyarat

Di tempat terakhir, peserta acara city tour diajak memesan kopi menggunakan bahasa isyarat. Tempat ketiga berlokasi di Duren Tiga, Jakarta Selatan yaitu Kopi Tuli. Sesuai dengan namanya, barista dan waiter di Kopi Tuli semuanya tunarungu.

Bermula dari diskusi, Kopi Tuli lahir dari tiga pemiliknya yang semuanya tunarungu, yaitu Putri, Adhika, dan Erwin. Mulanya Putri bersama ketiga temannya membuka kedai kopi di Depok, lalu mulai membuka kedai kedua di Duren Tiga. Ide awal kedai ini akibat kekecewaan ketiga pendiri yang ditolak oleh perusahaan karena dirinya penyandang disabilitas. Salah satu pendiri Koptul Erwin mengatakan Koptul ingin memberikan kesempatan pada penyandang disabilitas bisa hidup mandiri secara ekonomi.

Banyak nama menu yang asing di kedai ini karena berkaitan dengan alam. Sebab menurut Erwin melalui alam mereka bertiga dipertemukan, dan nama-nama menu ini menggambarkan warna-warna yang dihasilkan dari minuman itu. Misalnya Kosu Tanah yang berwarna cokelat, Laut Biru racikan khas Koptul, dan Daun Susu yaitu teh hijau dengan susu. Hal menarik lainnya dari kedai kopi ini adalah adanya huruf-huruf bahasa isyarat yang tercetak di gelas kopi, sehingga pengunjung bisa langsung mempraktikkan bahasa isyarat untuk berkomunikasi.

Koko Jali selaku penyelenggara acara memang rutin melakukan kegiatan tur bertema toleransi. Pemilik komunitas Koko Jali Max Andrew Ohandi menyebut tur ini sebagai cara untuk menjembatani perbedaan yang dimiliki para penyandang disabilitas dengan para peserta.

"Kita main ke kedai kopi yang luar biasa banget. Tunadaksa dan tuli, mereka punya cerita yang bisa menginspirasi kita," kata Max Andrew Ohandi di Sunyi House of Coffee and Hope, Sabtu (14/9/2019).

 

Editor: Sindu Dharmawan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Hari Hak Asasi Manusia, Apa yang Diinginkan Keluarga Korban Pelanggaran HAM?

Kabar Baru Jam 8

Kelas Multikultural, Ruang Keberagaman dari Tanah Sunda

Kabar Baru Jam 7

Arab Saudi Hapus Aturan Pemisahan Gender di Restoran dan Kafe