Tiga Sekolah Buka Kelas Pelajaran Kepercayaan

Ketiga sekolah tersebut adalah SMAN 1 Cilacap, SMK Yos Sudarso Jeruklegi dan SMPN 1 Jeruklegi. Di masing-masing sekolah ada satu siswa penganut kepercayaan.

BERITA | NUSANTARA

Kamis, 10 Sep 2015 11:33 WIB

Tiga Sekolah Buka Kelas Pelajaran Kepercayaan

Muslam Hadiwijaya, Sekretaris Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Kabupaten Cilacap. (Foto: Muhamad Ridlo/KBR)

KBR, Cilacap – Sekretaris Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Kabupaten Cilacap, Sulam Hadiwijaya mengatakan, tiga sekolah di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah membuka kelas Pelajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa mulai tahun ajaran baru 2015 ini.

Ketiga sekolah tersebut adalah SMAN 1 Cilacap, SMK Yos Sudarso Jeruklegi dan SMPN 1 Jeruklegi. Di masing-masing sekolah ada satu siswa penganut kepercayaan.

Muslam menuturkan ketiga sekolah tersebut meminta MLKI untuk menyediakan guru pengajar mata pelajaran tersebut. Sebab, Dinas Pendidikan Cilacap sendiri belum memiliki guru pelajaran kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa.

Meski demikian, MLKI baru bersedia menyediakan guru kepercayaan di SMAN 1 Cilacap. Sedangkan dua sekolah lainnya, SMK Yos Sudarso dan SMPN 1 Jeruklegi masih diampu oleh guru pengajar budi pekerti serta guru bahasa dan budaya jawa.

"SMAN 1 Cilacap, SMP Jeruklegi dan SMK Yos Sudarso Jeruklegi. Kebetulan kalau yang SMP masih ditekel (diajar) oleh Guru Bahasa Jawa. Saya tidak mau (mengajar), sebab harus ada permintaan dari orang tua siswa penganut kepercayaan. Orang tua minta kepada pihak sekolah, baru pihak sekolah meminta kepada Majelis Luhur (MLKI). Baru Majelis Luhur menyediakan tenaga pengajar," jelasnya kepada KBR.

Muslam Hadiwijaya mengapresiasi Dinas Pendidikan Cilacap yang memberikan kesempatan kepada siswa penganut kepercayaan untuk mendapatkan pendidikan sesuai dengan kepercayaannya. Ia menyebut hal ini adalah terobosan yang menandakan bahwa pemerintah sudah lebih menghormati penganut kepercayaan sejajar dengan penganut agama lain dan menghormati hak asasi untuk beragama.

Sebelumnya, siswa penghayat kepercayaan di Cilacap selalu mengikuti salah satu agama yang diajarkan oleh sekolah agar raportnya tidak kosong. 


Editor : Sasmito Madrim

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Jurus Antipunah Episode Ekonomi Lestari Lewat Wirausaha Sosial

Pengenaan PPN Pada Sembako, Tepatkah?

Kabar Baru Jam 8

Pengetatan Pelaku Perjalanan Internasional Cukup Kuat?