Perhutani Banyumas Bentuk 20 Posko Penanggulangan Kebakaran

Pembentukan posko penanggulangan kebakaran itu dianggap penting untuk memantau dan menanggulangi potensi terbakarnya hutan pada musim kering akibat kemarau panjang ini.

BERITA | NUSANTARA

Kamis, 24 Sep 2015 12:24 WIB

Author

Muhamad Ridlo Susanto

Perhutani Banyumas Bentuk 20 Posko Penanggulangan Kebakaran

Ilustrasi kebakaran hutan di lahan Perum Perhutani. (Foto: bumn.go.id)

KBR, Banyumas – Perum Perhutani Banyumas membentuk 20 posko penanggulangan kebakaran di empat kabupaten di sekitar Banyumas. Posko itu akan bekerja meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara.

Kepala Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banyumas Timur, Wawan Triwibowo menyatakan anggota Posko terdiri dari Polisi Hutan Perhutani, anggota TNI, Polri, dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Pembentukan posko penanggulangan kebakaran itu dianggap penting untuk memantau dan menanggulangi potensi terbakarnya hutan pada musim kering akibat kemarau panjang ini.

Salah satu tugas Posko adalah melakukan patroli hutan dan melakukan tugas edukasi kepada masyarakat kawasan hutan.

"Kita sudah membentuk Pos Komando Penanggulangan Bencana Kebakaran Hutan, mulai dari Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara. Yang pasti terjadi di spot kebakaran yang besar. Dalam data kita ada puluhan spot kecil-kecil, sekitar setengah hektar dan lain-lain, tapi bisa langsung dipadamkan saat itu juga. Sedangkan spot yang besar terjadi di sekitar empat tempat," kata Wawan Triwibowo.

Kepala KPH Banyumas Timur, Wawan Triwibowo mengatakan di musim kamarau kali ini terjadi puluhan kebakaran di wilayah Perhutani Banyumas Timur.

Empat kebakaran berkategori besar antara lain kebakaran hutan Gunung Slamet, Dataran Tinggi Dieng, Hutan Kemangkon dan Purbalingga. Kebakaran yang terjadi di kawasan KPH Banyumas Timur menghanguskan 100-an hektar lebih hutan jati.

Tanaman jati memang resisten atau cukup tahan terhadap kebakaran. Namun kebakaran berpotensi mengurangi keragaman hayati hutan, baik flora maupun fauna. Perhutani belum menghitung kerugian akibat kebakaran tersebut.

Editor: Agus Luqman
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Bekas Napi Koruptor Harus Jeda Lima Tahun Sebelum Maju di Pilkada