Bagikan:

Kerap Diintimidasi TNI, Petani Urut Sewu Minta Perlindungan Bupati Kebumen

Widodo Sunu mengatakan petani kerap mendapat tekanan intimidasi yang makin represif dari TNI atau kelompok pembela TNI.

BERITA | NUSANTARA

Rabu, 30 Sep 2015 10:54 WIB

Kerap Diintimidasi TNI, Petani Urut Sewu Minta Perlindungan Bupati Kebumen

Kepala Desa Wiromartan Widodo Sunu Nugroho saat dirawat di Rumah Sakit akibat bentrokan dengan TNI. (Foto: Widodo Sunu/Muhamad Ridlo/KBR)

KBR, Kebumen – Lantaran kerap diintimidasi tentara, petani Urut Sewu meminta perlindungan ke Bupati Kebumen.

Bupati dianggap sebagai aktor kunci penyelesaian konflik lahan Urut Sewu antara warga dengan TNI AD.

Koordinator Urut Sewu Bersatu, Widodo Sunu Nugroho mengatakan bupati membawahi Badan Pertanahan Nasional (BPN) di daerah yang bisa secara cepat melakukan verifikasi data kepemilikan lahan sengketa, baik yang dimiliki warga maupun TNI.

Dengan demikian bupati dianggap memiliki kunci untuk menyelesaikan konflik yaang tekah terjadi selama puluhan tahun ini.

Widodo Sunu mengatakan petani kerap mendapat tekanan intimidasi yang makin represif dari TNI atau kelompok pembela TNI.

Intimidasi meningkat semenjak petani berdemo menolak pemagaran yang berakhir dengan penyerbuan ratusan tentara pada 22 Agustus lalu.

Pada 17 September 2015, puluhan tentara juga menyerbu warga yang membuat parit penghadang truk pembawa material. Namun, sebelum tentara tiba di lokasi, warga melarikan diri dengan cara berkonvoi ke rumah dinas Bupati Kebumen untuk meminta perlindungan.

"Potensi konfliknya masih sangat besar. Kemarin setelah ada aksi di Setro Jenar karena ada droping material, kemudian masyarakat membuat parit di pinggir jalan supaya truk tidak bisa melintas. Itu yang saya maksud dengan sowan ke bupati itu," kata Widodo Sunu.

"setelah kita aktif di lapangan kita dihadang pasukan bersenjata kemudian kita ke Pak Bupati meminta perlindungan. Langkah (hukum) kami persiapkan tapi kami belum melangkah. Sebenarnya menurut kami langkah (hukum) itu tidak perlu dilakukan seandainya kabupaten bertanggungjawab," lanjut Widodo.

Widodo Sunu Nugroho yang juga Kepala Desa Wiromartan menambahkan warga enggan meminta perlindungan kepada polisi.

Menurut Widodo, pada insiden 22 Agustus lalu, polisi hanya diam tidak berbuat apa-apa saat warga diserbu ratusan anggota TNI. Polisi juga diam saja saat warga dianiaya di depan puluhan polisi yang berjaga. Menurut Sunu, polisi dianggap tidak berani melawan tentara.

Editor: Agus Luqman 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Komunitas Biboki Lestarikan Tenun Ikat Tradisional

Living Law, Apa Dampaknya Jika Masuk dalam RKUHP?

Kabar Baru Jam 10

Most Popular / Trending