Ekonomi Melemah, Omzet UMKM Turun 50 Persen

Salah seorang pelaku UMKM kerajian daur ulang di Bondowoso, Frans mengatakan tidak stabilnya perekonomian Indonesia berdampak pada turunnya omset usaha hingga 50 persen.

BERITA | NUSANTARA

Kamis, 17 Sep 2015 18:08 WIB

Author

Friska Kalia

Ekonomi Melemah, Omzet UMKM Turun 50 Persen

Industri kreatif kerajinan tangan daur ulang turut terkena dampak pelemahan ekonomi. (Foto: Friska Kalia/KBR)

KBR, Bondowoso – Pengusaha kecil menengah di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur mulai merasakan dampak melemah perekonomian nasional.

Indikasinya terlihat dari turunnya omset para pengusaha UMKM dalam dua bulan terakhir.

Salah seorang pelaku UMKM kerajian daur ulang di Bondowoso, Frans mengatakan tidak stabilnya perekonomian Indonesia berdampak pada turunnya omset usaha hingga 50 persen.

Jika sebelumnya dalam sebulan omset Frans mencapai Rp40–Rp50 juta, saat ini omset rata-rata hanya sekitar Rp25 juta.

"Memang ada perbedaan, utamanya daya beli masyarakat yang menurun. Selain itu harga beberapa barang juga ikut naik seperti lem, pernis dan barang pabrikan lainnya. Omsetnya turun dari Rp40 juta ke Rp25 juta," kata Frans saat ditemui KBR di galeri kerajinan miliknya, Kamis (17/9).

Untuk mengurangi kerugian, Frans mengurangi jumlah produksi serta membuat kerajinan tangan dengan model terbatas.

Selain itu, Frans juga berupaya membuka pangsa pasar baru ke luar wilayah untuk memasarkan produknya.

Saat ini produk kerajinan daur ulang miliknya sudah memasuki pasar di Batam. Sebelumnya, produk kerajinan miliknya merambah pasar di Bali, Yogyakarta dan Bandung.

Selain turunnya pendapatan, pengusaha juga mengeluhkan tingginya pajak yang ditentukan oleh pemerintah yakni 1 persen dari omset. Frans berpendapat, pembayaran pajak 1 persen dari omset sangat merugikan pengusaha kecil.

"Kalau 1 persen dari pendapatan kami tidak keberatan. Tapi 1 persen dari omset itu artinya modal kami juga habis untuk bayar pajak," keluhnya.

Frans menggeluti usaha kerajinan tangan dari bahan limbah sejak tahun 2001 lalu. Berbagai kerajinan dari pelepah pisang, kulit jagung, ranting kering, hingga cangkang telur diubah menjadi produk rumah tangga dengan nilai jual tinggi.

Harga produk kerajinan miliknya dibandrol dengan harga antara Rp25 ribu hingga Rp10 juta per barang.

Editor: Agus Luqman
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun