Disnaker Kupang: Banyak PHK bukan Karena Pelemahan Ekonomi

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Kupang Jeri Padji Kana mengatakan PHK terjadi karena perilaku tenaga kerja, dan bukan karena masalah ekonomi.

BERITA | NUSANTARA

Minggu, 06 Sep 2015 20:30 WIB

Author

Silver Sega

Ilustrasi aksi buruh menentang PHK di Jakarta. (Foto: Luviana/KBR)

Ilustrasi aksi buruh menentang PHK di Jakarta. (Foto: Luviana/KBR)

KBR, Kupang - Dinas Tenaga Kerja Kota Kupang Nusa Tenggara Timur mengklaim kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di daerah itu bukan disebabkan karena pelemahan ekonomi atau pelemahan rupiah terhadap dolar. 

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Kupang Jeri Padji Kana mengatakan PHK terjadi karena perilaku tenaga kerja, dan bukan karena masalah ekonomi.

Jeri Padji Kana mengatakan, di daerah hanya dua perusahaan yang dianggap perusahaan besar yakni PT Semen dan Lippo. Dua perusahaan itu belum ada mem-PHK karyawan karena masalah ekonomi. 

Jeri Padji Kana mengatakan sejak Januari hingga hingga Agustus memang ada 134 buruh yang di-PHK, namun disebabkan karena sikap dan perilaku tenaga kerja. 

"Di kota Kupang ini tidak ada perusahaan sebesar di Jakarta atau di luar Kota Kupang seperti perusahaan-perusahaan industri yang menyedot tenaga kerja sampai ribuan. Di Kota Kupang paling hanya PT Semen, Lippo, tapi belum ada gejolak yang membuat itu perusahaan mem-PHK- karyawan. Kalau pun ada PHK itu karena masalah-masalah hubungan industrial saja, bukan karena ada masalah ekonomi," kata Jeri Padji Kana di Kupang Minggu (06/09).

Sebelumnya Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) NTT, Stanis Tefa, mengatakan sejak Januari hingga Agustus 2015 ada sekitar 400 karyawan di sejumlah perusahaan di NTT terkena PHK. 

Bahkan KSPSI NTT menyebut ada dua perusahaan di Kota Kupang yang ditutup. Dari 400 orang karyawan yang terkena PHK, sekitar 150 orang berada di Kota Kupang, 200 orang di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dan 50 orang di Belu. 

Ratusan pekerja yang di-PHK tersebut, adalah pekerja toko, apotek, sopir angkutan kota dan pekerja di pertambangan.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Jokowi Perintah Menkes Segera Tetapkan Kriteria Pembatasan Sosial Berskala Besar