Perusahaan Tebu Penyebab Kabut Asap Sumsel?

Polisi diminta tidak pilih kasih.

NUSANTARA

Selasa, 30 Sep 2014 14:21 WIB

Author

Citra Prastuti

Perusahaan Tebu Penyebab Kabut Asap Sumsel?

tebu, kabut asap, gambut, sumsel, kebakaran hutan

Kabut asap di Sumatera Selatan kian menebal. Tak hanya warga yang terganggu, tapi juga jadwal penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dan jadwal sekolah anak-anak.

Kepolisian Daerah Sumatera Selatan menuding penyebabnya adalah aktivitas panen tebu yang dilakukan dengan cara membakar. Panen itu terjadi di Kabupaten Ogan Ilir (OI), Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir (OI), dan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur.

Kapolda Sumsel Saud Nasution mengatakan perusahaan disinyalir membakar ratusan hektar kebun tebu bakar saat panen berlangsung. Panen tidak dilakukan dengan cara membakar di kebun tebu hijau.

“Tebu bakar inilah yang ditengarai menjadi penyebab asap di Sumsel, apalagi dilakukan saat musim kemarau seperti sekarang,” kata Saud. Kepolisian bahkan telah menetapkan tujuh karyawan perusahaan perkebunan sebagai tersangka pembakar lahan. Kasusnya tengah didalami sebelum dilimpahkan ke kejaksaan.

Polda Sumsel mengaku akan berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk mengetahui analisa dampak lingkungan (Amdal) dari perusahaan tebu yang membakar lahan saat panen.

“Jika tidak diperbolehkan, Kepolisian Sumsel akan menindak tegas,” jelas Saud.

Sesuai UU No.18 Tahun 2004 tentang Perkebunan pasal 48 dan 49, perusahaan perkebunan dilarang membuka dan mengelola lahan perkebunan dengan cara membakar. Ancamannya maksimal 10 tahun penjara, dan denda maksimal Rp10 miliar. Jika lahan terbakar karena kelalaian, sanksi tetap menanti yaitu penjara tiga tahun dan denda tiga miliar rupiah.

Tapi, proses hukum tidak sebatas pada pelakunya. Juga terhadap orang yang memerintah, mendapatkan keuntungan atau yang bertanggungjawab atas lahan yang terbakar. Ini sesuai pasal 119 ayat 1 dan 2 UU No.32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Di lain pihak Walhi Sumsel yakin kalau bencana asap tidak hanya disebabkan oleh perkebunan tebu. Walhi mengingatkan kepolisian untuk tidak berlaku pilih kasih.

Berdasarkan data BMKG hingga pukul 05.00 WIB, Jumat, data hotspot yang terdeteksi di Sumsel terfokus di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Dengan total 79 titik, hotspot di OKI terbesar di Tulungselapan yakni 68 titik, Kecamatan Pedamaran dengan 8 titik, Kecamatan Cengal 2 titik, dan Kecamatan Pampangan 1 titik.

Hotspot di lahan gambut di Sumsel cukup sulit dikendalikan. Setelah berhasil dipadamkan apinya bukan berarti persoalan selesai. Api bisa saja mati di pagi hari tapi muncul kembali di siang hari. Ditambah lagi saat ini Sumsel tengah mengalami musim kemarau sehingga rawan terjadi kebakaran.

Tulisan ini hasil kerjasama Mongabay dan Green Radio


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17