Bagikan:

Merkuri Masih Cemari Perairan Lampon Banyuwangi

Zat berbahaya merkuri bekas penambangan emas rakyat hingga saat ini masih mencemari Pantai Lapon, Banyuwangi, Jawa Timur. Setelah siput dan kerang, merkuri ternyata telah masuk ke tubuh tripang atau biasa dikenal timun laut (Holothuroidea).

NUSANTARA

Selasa, 02 Sep 2014 15:11 WIB

Author

Hermawan

Merkuri Masih Cemari Perairan Lampon Banyuwangi

Merkuri, Lampon Banyuwangi

KBR, Banyuwangi - Zat berbahaya merkuri bekas penambangan emas rakyat hingga saat ini masih mencemari Pantai Lapon, Banyuwangi, Jawa Timur. Setelah siput dan kerang, merkuri ternyata telah masuk ke tubuh tripang atau biasa dikenal timun laut (Holothuroidea).

Peneliti lingkungan dari Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Susintowati mengatakan, dari hasil penelitian tahun lalu, pihaknya telah menemukan kadar merkuri pada teripang hitam yang melebihi baku mutu yakni mencapai 4,45 - 47,83 ppb (part per billion/bagian per miliar)

Padahal, kata dia, mengacu pada Jepang dan Canada, misalnya, baku mutu merkuri maksimal pada organisme laut sebesar 0,3 ppb.

Kata dia, dalam penelitian itu pihaknya telah mengambil tiga sampel tripang di Pantai Lampon yang tercemar merkuri dan membandingkan dengan tripang di pantai Batu Taman Nasional Meru Bertiri yang jauh dari aktivitas pertambangan. Hasilnya, kandungan merkuri pada teripang di Meru Betiri lebih rendah dibanding di Pantai Lampon, sehingga tidak terdeteksi dengan alat.

“Disana masih terindikasi ada merkuri di tubuh teripang. Analisis saya ke arah molekuler. Ternyata walaupun kandungannya sedikit tapi sudah berimbas pada profil protein yang berubah dari normal,” kata Susintowati (2/9).

Susintowati menambahkan, pihaknya memilih teripang karena hewan tersebut merupakan bioindikator untuk mengetahui kualitas lingkungan. Sebab, teripang berfungsi penting dalam rantai makanan yakni sebagai hewan pembersih karena memakan sisa-sisa jasad mati di laut dan pantai.

Sungai Lampon yang bermuara langsung ke Laut Selatan, pada tahun 2007 hingga 2010 dipakai sebagai tempat pembuangan limbah tambang yang mengandung merkuri.

Editor: Anto Sidharta

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?