Lagi, Gajah Mati Tanpa Gading di Aceh

Kalau begini terus, gajah Sumatera bisa punah.

NUSANTARA

Sabtu, 13 Sep 2014 05:20 WIB

Author

Green Radio-Mongabay

Lagi, Gajah Mati Tanpa Gading di Aceh

Gajah Sumatera, Aceh, gading, Mongabay

Bangkai gajah Sumatera itu tergeletak membusuk di pinggir Sungai Cengeh, Gamong Pangong, Kecamatan Krueng Sabe, Aceh Jaya. Gadingnya hilang. 


Bangkai gajah berusia sekitar 20 tahun itu ditemukan hari Minggu (7/9/2014) dan warga mengetahuinya begitu mencium bau busuk. “Saat warga menelusuri pinggiran Sungai Cengeh, ternyata bau itu berasal dari bangkai seekor gajah jantan yang sudah tidak ada gadingnya,” jelasnya, Minggu (7/9/14).


Yusni menyebutkan, selain bangkai gajah yang sudah membusuk, tidak jauh dari lokasi tersebut ditemukan juga tulang-belulang gajah. 


“Warga khawatir, kejadian ini akan menyebabkan gajah masuk permukiman penduduk. Padahal, selama ini masyarakat tidak pernah mengusik gajah,” ujarnya.


Dokter dari Pusat Konservasi gajah (PKG) Saree Kabupaten Aceh Besar, drh. Rosa, yang turun ke lapangan menyatakan kesulitan mengambil sampel gajah yang sudah membusuk itu untuk kebutuhan forensik. Untuk mengetahui penyebab kematian gajah, ia harus menguji sampel tersebut di laboratorium di Medan, Sumatera Utara. 


“Kami tidak bisa menduga-duga, yang pasti saat ditemukan, gadingnya sudah tidak ada,” ujarnya.


Mati lagi tanpa gading


Di hari yang sama di Aceh Timur, dilaporkan dua gajah mati mengenaskan dengan kondisi serupa: gadingnya hilang. Bangkai gading itu ditemukan di areal PT. Dwi Kencana Jamborehat,  Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur. Lokasi penemuan ini sekitar 10 kilometer dari pusat permukiman warga dan 50 meter dari jalan kebun PT. Dwi Kencana.


Dua gajah berkelamin jantan itu ditemukan di dua lokasi terpisah yang jaraknya sekitar 100 meter. Saat ditemukan, salah seekor gajah tersebut ditutupi pelepah sawit dan di dekat kakinya terdapat dua butir selongsong peluru. Ada juga bekas ban mobil di lokasi kejadian.


Kematian gajah ini bukan kejadian pertama di perkebunan Aceh Timur. Pada 27 Juli 2013 lalu, seekor gajah ditemukan membusuk di perkebunan sawit PTPN I di Desa Blang Tualang, Kecamatan Bireun Bayeun. Sementara, seekor lagi ditemukan mati mengambang di Sungai Desa Alu Tuwi, Kecamatan Rantau Selamat.


“Konflik yang terjadi antara manusia dengan gajah dimanfaatkan pihak tertentu untuk membunuh gajah dan mengambil gadingnya,” tutur Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh, Genman Hasibuan. 


Genman menyebutkan, saat ini diperkirakan ada sekitar 450-500 ekor gajah yang tersebar di Aceh. “Dari semua kabupaten/kota di Aceh, yang tidak ada gajahnya hanya di Banda Aceh, Simeulu, dan Sabang,” ucapnya.


Karena konflik gajah-manusia?


Program Manajer Fauna & Flora International (FFI) Aceh, Syafrizaldi menyebutkan, tahun 2014, konflik antara gajah dengan manusia semakin meningkat, bahkan selain ada gajah yang mati, warga juga ikut menjadi korban.


“Di Aceh Jaya saja, dua ekor gajah mati tahun 2014. Ini tidak termasuk daerah lain di Aceh, bahkan dua bulan lalu, ada warga di Kabupaten Bener Meriah yang tewas karena diserang gajah,” ungkapnya.


Walhi Aceh mengingatkan bahwa gajah Sumatera terancam punah dalam beberapa puluh tahun ke depan jika pembunuhan terhadap mamalia bertubuh besar ini terus terjadi. Direktur Eksekutif Walhi Aceh, Muhammad Nur mengatakan aktivitas manusia yang melakukan eksploitasi sumber daya hutan menjadi ancaman terbesar bagi kelestarian gajah Sumatera.


“Hutan Aceh merupakan benteng terakhir bagi  gajah Sumatera untuk hidup. Tapi jika kegiatan konversi hutan menjadi lahan bisnis perkebunan maupun pertambangan dan perluasan bisnis lainya jusru akan menyempitkan ruang bagi gajah dan akan punah puluhan tahun kedepan,” tegas Nur.


Walhi mencatat adanya persetujuan Menteri Kehutanan melalui Surat Keputusan No. 941/II/2013 tanggal 23 Desember 2013 yang menyetujui alih fungsi hutan Aceh seluas 42.616 hektar. Ini dikhawatirkan akan mempercepat tekanan terhadap kehidupan gajah Sumatera di alam liar. Karena sebagian besar hutan yang dihilangkan merupakan areal jelajah gajah sumatera di Aceh.


“Ada  9 kabupaten sebagai pusat populasi gajah. Maka pembangunan apapun yang sudah dirancang dalam Tata Ruang Aceh 2013-2033 harus menjadi perhatian serius BKSDA dan para pihak mengawal kebijakan pembangunan,” tambah Nur.


Selama 2012-2014 Indonesia telah kehilangan 90 individu gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) karena mati di Aceh, Riau dan Lampung.  Sebagian besar kematian gajah diduga terkait perburuan gading. WWF-Indonesia mendesak pemerintah dan penegak hukum untuk segera menuntaskan penyelidikan atas semua kasus kematian satwa ini hingga ke meja hijau.


Tulisan ini hasil kerjasama Green Radio dan Mongabay

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Terkait Aksi Bom Bunuh Diri di Markas Polisi

Kabar Baru Jam 15

Pemprov Jatim Minta Masyarakat Waspadai Dugaan Penipuan Seleksi CPNS

Kabar Baru Jam 14

Khawatir Jadi Target Demonstrasi Pro-Demokrasi, Mahasiswa China Melarikan Diri Keluar Hong Kong