Koalisi Pejalan Kaki Ruwatan Zebra Cross

KBR, Jakarta - Sebanyak 10 orang yang menamakan diri Koalisi Pejalan Kaki melakukan 'ruwatan' zebra cross di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jumat (19/9). Ruwatan itu tepatnya dilakukan di zebra cross tepat di depan Plaza Indonesia Jakarta.

NUSANTARA

Jumat, 19 Sep 2014 20:17 WIB

Koalisi Pejalan Kaki Ruwatan Zebra Cross

koalisi pejalan kaki, jakarta

KBR, Jakarta - Sebanyak 10 orang yang menamakan diri Koalisi Pejalan Kaki melakukan 'ruwatan' zebra cross di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jumat (19/9). Ruwatan itu tepatnya dilakukan di zebra cross tepat di depan Plaza Indonesia Jakarta.

Mengapa ruwatan? Koordinantor Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus menjelaskan ruwatan dalam tradisi Jawa berarti ritual khusus dan bertujuan untuk membersihkan diri. Sehingga ruwatan zebra cross ini juga bisa diartikan sebagai mengembalikan keadaan zebra cross yang mulai pudar atau hilang di Jakarta.

"Kami cat ulang zebra cross ini, karena sudah pudar. Karena ini perlu untuk menyebrang jalan," kata Alfred di lokasi ruwatan.

Ide ruwatan ini berawal dari keprihatinan banyaknya zebra cross di Jakarta yang mulai pudar. Jumlahnya paling tidak ada 80 persen zebra cross yang rusak di Jakarta. Sementara warna putih zebra cross hilang, pihak Pemerintah DKI Jakarta tidak memperbaikinya.

Sebenarnya Alfred sudah mengirimkan surat kepada Pemprov Jakarta yang isinya meminta zebra cross yang sudah pudar agar dicat kembali. Selama 5 bulan sejak surat itu dikirimkan, Balaikota tidak membalas surat itu.

Akhirnya 2 minggu lalu, Alfred melakukan ruwatan perdana di satu ruas zebra cross di kawasan Agus Salim Jakarta Pusat. Aksi itu banyak mendapatkan respon positif. Buktinya, banyak perseorangan yang menyumbangkan cat putih kalengan ke Koalisi.

"Itu sumbangan, jadi buat kita mencat zebra cross itu. Kalau ada yang nyumbang cat, silakkan. Kita terima," jelas dia.

Di Jakarta, ada 10 titik yang menjadi kawasan terparah karena tidak ada zebra cross. Di antaranya di Jalan Agus Salim dan sepanjang Jalan Sudirman, serta Jalan MH Thamrin.

"Ada 10 titik yang sudah kami tandai. Salah satunya di Bundaran HI, Jalan Agus Salim, Jalan Cemara, di sepanjang Jalan Sudirman itu banyak sekali jalan penghubung Sudirman-Thamrin. Padahal itu kewajiban yah Pemprov DKI menyediakan itu. Kementerian PU juga," paparnya.

Dalam ruwatan, Jumat sore tadi, Koalisi Pejalan Kaki memperbaiki zebra cross dengan menggunakan cat tembok luar mengandung akrilik. Cat ini tahan cairan dan tidak mudah pudar. Cat putih itu dicampur sedikit air dan disapukan ke aspal yang masih sedikit terlihat zebra cross-nya. agar hasilnya bagus dan sesuai bentuk garis, Alfred dan kawan-kawan menggunakan kayu bekas yang lurus. Cat terus disapukan ke aspal dengan menggunakan kuas.

Alfred mengaku menghabiskan 10 kaleng cat dalam sekali melakukan ruwatan untuk satu zebra cross. Jika diuangkan, Rp 1 juta dirogoh untuk membeli keperluan cat itu.

Alfred mengakui jika cat ini tidak akan tahan lama menempel di aspal. Sebab injakkan pejalan kaki dan lindasan kendaraan akan memudarkan cat. Tapi, paling tidak menurutnya akan menyelamati 18 nyawa yang hilang karena tertabrak kendaraan saat menyebrang.

"Data Koorlantas Polri, 18 orang setiap hari meninggal di Jakarta karena menyebrang jalan. Mereka menyebrang jalan tidak di zebra cross. Itu karena memang tidak ada zebra cross di sana. Paling nggak dengan begini, kita bisa selamatkan nyawa orang," papar Alfred.

Tidak hanya di Jakarta, Koalisi Pejalan Kaki juga akan melakukan ruwatan zebra cross di Bogor dan Depok. Begitu juga di luar pulau Jawa.

"Koalisi Pejalan Kaki ini kan sudah di beberapa kota di Indonesia. Di Bogor dan Depok akan dilakukan pekan depan. Di sana juga banyak zebra cross yang kritis," tutup Alfred.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Survei Sebut Mayoritas Masyarakat Ingin Pandemi Jadi Endemi