Warga Kulonprogo Tetap Tolak Tambang Pasir Besi

Warga Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) mendatangi lokasi sosialisasi pembebasan lahan untuk pembangunan pabrik bijih besi yang digelar di Hotel Pandansari, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kamis (5/9).

NUSANTARA

Kamis, 05 Sep 2013 18:28 WIB

Author

radio Star Jogja

Warga Kulonprogo Tetap Tolak Tambang Pasir Besi

kulonprogo, tambang pasir besi

KBR68H, Kulonprogo - Warga Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) mendatangi lokasi sosialisasi pembebasan lahan untuk pembangunan pabrik bijih besi yang digelar di Hotel Pandansari, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kamis (5/9).


Dalam sosialisasi tersebut Sekda Kulonprogo, Astungkoro, serta Direktur Pembangunan Komunitas dan SDM PT Jogja Magasa Iron (JMI), Heru Priyono.Astunkoro memaparkan mengenai manfaat penambangan pasir besi bagi APBD maupun masyarakat sekitar. 


Ia juga menjelaskan akan munculnya berbagai industri hilir akibat adanya produk baja tersebut. Sementara Heru Priyono dibantu Direktur Teknik JMI, Sampurna, menjelaskan rencana pembangunan pabrik yang melibatkan banyak tenaga kerja, serta mengenai reklamasi. Namun penjelasan tersebut tidak dipercayai oleh warga PPLP yang hadir.


Mujiran, warga Karangwuni mengatakan, uang ganti rugi Rp 75.000 per meter persegi terlalu kecil dibandingkan dengan hasil pertanian para petani. Dia mengaku jika menanam cabai merah satu musim tanam bisa menghasilkan Rp79 juta.


Hal yang sama dikatakan oleh Sunardi, warga lainnya, Dia menegaskan, tidak memberikan mandat kepada tim yang pernah dibentuk dalam negosiasi ganti rugi sehingga mereka tidak terikat dengan kesepakatan yang pernah dibuat.Karena itu, mereka memilih untuk tetap bertani menolak pabrik pasir besi di Karangwuni.


Ketua PPLP, Supriyadi, yang mendampingi warga PPLP asal Karangwuni mempertanyakan soal penempatan pabrik PT JMI di Karangwuni, Kecamatan Wates. Karena berdasarkan RTRW, kawasan industri ada di daerah Galur Lendah dan Sentolo.


“Kalau dihitung rupiah, bagi hasil yang diterima Kulonprogo, DIY dan negara memang miliaran rupiah. Tetapi kalau dilihat persentasenya kita hanya dapat tiga persen, sementara investor dapat 97 persen,” katanya.


Sumber: radio Star Jogja 


Editor: Antonius Eko

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Keluarkan Biaya Sendiri untuk Visum

Tantangan Dalam Reintegrasi Eks-Napiter dan Orang Yang Terpapar Paham Radikalisme

Kabar Baru Jam 15