Pendulang Tradisional di Timika Terancam Absen Pemilu

Sekitar tujuh ribu orang pendulang emas tradisional terancam tidak dapat menggunakan hak suaranya pada pilkada bupati dan wakil bupati Mimika, Papua, 8 Oktober mendatang.

NUSANTARA

Rabu, 18 Sep 2013 16:23 WIB

Author

Spedy Paereng

Pendulang Tradisional di Timika Terancam Absen Pemilu

Pendulang Tradisional, Timika, Absen Pemilu

KBR68H, Timika - Sekitar tujuh ribu orang pendulang emas tradisional terancam tidak dapat menggunakan hak suaranya pada pilkada bupati dan wakil bupati Mimika, Papua, 8 Oktober mendatang.

Ketua Komisi Pemilihan Umum, KPU Kabupaten Mimika Karolus Tsunme di Timika, Rabu (18/9) mengatakan, hal ini disebabkan tidak ada Tempat Pemungutan Suara atau TPS di lokasi pendulangan. Pasalnya, lokasi pendulangan merupakan daerah terlarang karena berada di daerah aliran pembuangan limbah PT Freeport Indonesia.

Selain itu, apabila KPU membangun TPS di lokasi tersebut, biaya pilkada Mimika bakal membengkak karena digunakan untuk pembangunan TPS dan transportasi.

"Pada saat pelaksanaan pemungutan suara nanti mereka (pendulang) terancam tidak dapat menggunakan hak pilihnya karena lokasi tempat mereka mendulang tidak ada TPS," jelas Karolus.

Meski demikian KPU saat sedang berusaha agar ribuan pendulang ini bisa tetap menggunakan hak pilihnya. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah meminta agar pemda, kapolres Mimika dan para tokoh masyarakat dapat mengajak para pendulang pada saat hari H pencoblosan agar mereka tidak mendulang. Mereka diarahkan untuk menuju TPS di sekitar tempat tinggal mereka untuk menggunakan hak suaranya.

"Kami menghimbau agar dua minggu sampai pada saat hari pencoblosan mereka (pendulang) tidak pergi mendulang agar dapat mengikuti pesta demokrasi," ungkap Karolus.

Sebelumnya, sejumlah pendulang tradisional meminta agar KPU Mimika juga membangun Tempat Pemungutan Suara atau TPS di lokasi pendulangan sepanjang daerah aliran pembuangan limbah PT Freeport Indonesia.

Pilkada Kabupaten Mimika akan dilaksanakan 8 Oktober mendatang yang diikuti 11 pasang calon.

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Penyangkal Iklim dan Bencana Alam

Pesantren Khusus Disabilitas di Banyuwangi

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12