Pemerintah Diminta Cek Kerusakan Lingkungan di Sumatera Utara

KBR68H, Jakarta - LSM lingkungan Walhi berharap pemerintah pusat segera berkunjung ke Sumatera Utara untuk memastikan kerusakan lingkungan di sana. Hal ini perlu dilakukan pasca pengembalian penghargaan Kalpataru dan Wana Lestari oleh Wilmar Simanjorang.

NUSANTARA

Rabu, 04 Sep 2013 07:23 WIB

Author

Sasmito

Pemerintah Diminta Cek Kerusakan Lingkungan di Sumatera Utara

kalpataru, dikembalikan, kerusakan lingkungan

KBR68H, Jakarta - LSM lingkungan Walhi berharap pemerintah pusat segera berkunjung ke Sumatera Utara untuk memastikan kerusakan lingkungan di sana. Hal ini perlu dilakukan pasca pengembalian penghargaan Kalpataru dan Wana Lestari oleh Wilmar Simanjorang.

Juru Bicara Walhi, Mukri Friatna mengatakan, Walhi memberi dukungan kepada Wilmar dalam pengembalian Kalpataru sebagai contoh gerakan cinta lingkungan.

"Tentu Walhi sangat mendukung dan mengapresiasi gerakan tersebut. Karena ini gerakan intelektual yang tidak mengganggu kepentingan umum. Dan yang paling penting saat ini baru diperpanjang moratorium hutan. Kita berharap, jika pemerintah daerah tidak mampu maka perlu pemerintah pusat berkunjung ke lokasi. Apakah informasi yang disampaikan benar tidak," ujar Mukri kepada KBR68H.

Sebelumnya, penerima penghargaan Kalpataru dan Wana Lestari, Wilmar Simanjorang telah mengembalikan penghargaannya kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Presiden SBY. Selain Wilmar, tiga penerima penghargaan lingkungan lain di Sumatera Utara juga bakal mengembalikan piagam mereka kepada Presiden SBY.

Pengembalian ini dilakukan lantaran pemerintah dianggap tak konsisten menjaga hutan dari kerusakan. Padahal, kata dia, pemerintah pusat dan daerah sering menyuarakan untuk menjaga lingkungan kepada masayarakat. Misalnya, kerusakan lingkungan yang terjadi di Danau Toba.

Editor: Doddy Rosadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Keluarkan Biaya Sendiri untuk Visum

Tantangan Dalam Reintegrasi Eks-Napiter dan Orang Yang Terpapar Paham Radikalisme

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14