Bagikan:

Surat Terbuka Ibu dari Siswi yang Dipaksa Berhijab di Bantul

Ia meminta SMAN 1 Banguntapan, Pemerintah Yogyakarta, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bertanggung jawab, dan mengembalikan anaknya seperti sediakala.

NUSANTARA

Kamis, 04 Agus 2022 12:37 WIB

Author

Ken Fitriani

Surat Terbuka Ibu dari Siswi yang Dipaksa Berhijab di Bantul

Ilustrasi: Dua orang siswi menggunakan hijab di dalam kelas di salah satu sekolah di DIY, Selasa, 2 Agustus 2022. Foto: KBR/Ken Fitriani

KBR, Yogyakarta– Ibu dari siswi SMAN 1 Banguntapan, Bantul, yang diduga dipaksa berhijab oleh pihak sekolah, menulis dan mengirimkan surat terbuka kepada media massa terkait kasus yang menimpa keluarganya.

Melalui surat tersebut, perempuan berinisial HA ini mempersoalkan tuduhan sekolah soal masalah keluarga yang membuat anaknya depresi. Padahal kata dia, trauma yang kini dialami putrinya lantaran ia mengalami perundungan, ancaman dan paksaan atas keputusan dan prinsip yang dipegangnya.

HA sendiri adalah perempuan berhijab, namun ia menghargai pilihan dan pendapat anaknya dalam berpakaian. Menurut HA, putrinya bukan anak yang lemah atau bermasalah. Ia seorang atlet sepatu roda. Ia pun diterima di SMAN 1 Banguntapan sesuai prosedur.

Untuk itu, ia tidak terima mengetahui kondisi anaknya saat ini. Ia meminta SMAN 1 Banguntatap, Pemerintah Yogyakarta, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bertanggung jawab, dan mengembalikan anaknya seperti sediakala.

Ungkapan hati HA, serta tuntutannya dituliskan dalam surat terbuka, berikut tulisan lengkapnya:

Nama saya, HA, seorang ibu, perempuan Jawa, tinggal di Yogyakarta, yang sedang sedih dengan trauma, yang kini dihadapi putri saya, dampak dari memperjuangkan hak dan prinsipnya.

Putri saya adalah anak yang jadi perhatian media di sekolah di SMAN1 Banguntatapan, Bantul. Bagi kami orang tuanya, dia bukan anak yang lemah atau bermasalah. Dia terbiasa dengan tekanan. Saya dan ayahnya bercerai, namun kami tetap bersama mengasuh anak kami. Dia atlet sepatu roda. Dia diterima di SMAN1 Banguntapan 1 sesuai prosedur.

Pada Selasa, 26 Juli 2022, anak saya menelepon, tanpa suara, hanya terdengar tangisan. Setelahnya baru terbaca WhatsApp: "Mama aku mau pulang, aku ga mau di sini."

Ibu mana yang tidak sedih baca pesan begitu? Ayahnya memberitahu, dari informasi guru, bahwa anak kami sudah satu jam lebih berada di kamar mandi sekolah.

Saya segera jemput anak saya di sekolah. Saya menemukan anak saya di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dalam kondisi lemas. Dia hanya memeluk saya, tanpa berkata satu patah kata pun. Hanya air mata yang mewakili perasaannya.

Awal sekolah dia pernah bercerita bahwa di sekolahnya “diwajibkan” pakai jilbab, baju lengan panjang, rok panjang. Putri saya memberikan penjelasan kepada sekolah, termasuk wali kelas dan guru Bimbingan Penyuluhan, bahwa dia tidak bersedia. Dia terus-menerus dipertanyakan, "Kenapa tidak mau pake jilbab?"

Dalam ruang Bimbingan Penyuluhan, seorang guru menaruh sepotong jilbab di kepala anak saya. Ini bukan “tutorial jilbab”, karena anak saya tak pernah minta diberi tutorial. Ini adalah pemaksaan.

Saya seorang perempuan, yang kebetulan memakai jilbab, tapi saya menghargai keputusan dan prinsip anak saya. Saya berpendapat setiap perempuan berhak menentukan model pakaiannya sendiri.

Kini anak saya trauma, harus mendapat bantuan psikolog. Saya ingin sekolah SMAN 1 Banguntapan, Pemerintah Yogyakarta, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bertanggung jawab. Kembalikan anak saya seperti sediakala.

Beberapa guru menuduh putri saya punya masalah keluarga. Ini bukan masalah keluarga. Banyak orang punya tantangan masing-masing. Guru-guru yang merundung, mengancam anak saya, saya ingin bertanya,"Punya masalah apa Anda di keluarga sampai anak saya jadi sasaran? Bersediakah bila kalian saya tanya balik seperti ini?"

Surat itu diterima KBR dari Ombudsman perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu malam, 03 Agustus 2022. Ombudsman DIY turut menangani kasus ini, setelah menerima laporan dari orang tua dan pendamping anak dari Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Yogyakarta (AMPPY).

Sejumlah pihak telah diperiksa untuk mengetahui kejelasan perkara. Antara lain orang tua siswi SMAN 1 Banguntapan, yang diduga jadi korban paksaan berhijab pihak sekolah.

Kasus ini juga ditangani Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY. Awal pekan ini, kepala SMAN 1 Banguntapan, Bantul, telah dipanggil disdikpora untuk diperiksa.

Baca juga:

Editor: Sindu

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Most Popular / Trending