Bagikan:

Juli 2016, NTT Alami Deflasi

Deflasi dikarenakan turunnya indeks harga kelompok bahan makanan dan kelompok kesehatan.

BERITA | NUSANTARA

Kamis, 04 Agus 2016 12:07 WIB

Author

Silver Sega

Juli 2016, NTT Alami Deflasi

Ilustrasi. Foto: Antara


KBR, Jakarta - Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami deflasi sebesar 0,32 persen pada periode Juli 2016. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Maritje Pattiwaellapia mengatakan, deflasi dikarenakan turunnya indeks harga kelompok bahan makanan dan kelompok kesehatan. 


"Deflasi yang bulan juli ini, pasti semua berpikir di bulan Juli ini ada beberapa komponen atau kelompok pengeluaran yang punya andil untuk mempengaruhi deflasi. Kalau kita lihat kemarin Lebaran ya, tapi diawal bulan Juli. Ternyata dari kelompok pengeluaran ini yang kita catat, kelompok bahan makanan itu mengalami penurunan ya sebesar 3,29 persen. Jadi cukup tinggi juga ini," kata Maritje Pattiwaellapia, di Kupang Kamis (4/8). 

Baca:

Kepala Badan Pusat Statistik NTT Maritje Pattiwaellapia menambahkan perhitungan deflasi berdasarkan indeks harga konsumen yang berlaku di Kota Kupang dan Kota Maumere. Dia mengatakan Indeks Harga Konsumen di Kota Kupang 126,97, sedangkan Maumere 117,41 persen.

Menurutnya, tingkat kesejahteraan petani di NTT juga menurun pada bulan Juli. Ini berdasarkan nilai tukar petani (NTP) yang menurun 0,21 persen menjadi 100,46. Maritje mengatakan penghitungan NTP ini mencakup lima subsektor, yaitu subsektor padi dan palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.

Rinciannya 100,49 untuk subsektor tanaman pangan dan 98,39 untuk subsektor hortikultura. Sedangkan subsektor tanaman perkebunan rakyat 95,61 dan 106,54 untuk subsektor peternakan. Sementara untuk subsektor perikanan sebesar 104,02.

Baca juga: Indeks Demokrasi BPS, Kebebasan Berkeyakinan Turun

Editor: Sasmito

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?