Bagikan:

Petani Urut Sewu Dipaksa Terima Ganti Rugi Lahan

Petani diminta tandatangani BAP yang menyatakan sudah menerima uang ganti rugi lahan

BERITA | NUSANTARA

Jumat, 28 Agus 2015 13:55 WIB

Petani Urut Sewu Dipaksa Terima Ganti Rugi Lahan

Peta kawasan Urut Sewu Jawa Tengah (Sumber: Google Maps)

KBR, Kebumen– Petani di lahan sengketa Kawasan Urut Sewu Kebumen, Jawa Tengah dipaksa menerima uang ganti rugi lahan sebesar Rp 5000 per meter persegi. Koordinator Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan (FPPKS), Seniman mengatakan sejumlah petani mengadu mereka diintimidasi agar menerima ganti rugi tersebut.

Petani yang tengah menggarap lahan diundang ke base camp pasir besi yang berada di dalam pagar lahan yang diklaim milik TNI. Undangan tersebut disertai ancaman jika tidak datang, maka ganti rugi lahan tidak akan dibayarkan. Petani juga untuk menandatangani BAP yang menyatakan bahwa mereka telah menerima uang ganti rugi lahan sekaligus menyerahkan lahan tersebut kepada pihak TNI.

"Ada upaya pembayaran ganti rugi tanaman dengan secara paksa secara paksa tidak melalui prosedur desa. Bayarnya disuruh ke basecamp pasir besi yang ada di dalam pemagaran. (Model pembayaran ganti rugi tanamannya seperti apa, Pak?) Masyarakat itu dihubungi disuruh ke basecamp, disuruh menandatangani BAP, lalu dapat uang, katanya seperti itu. (dibayar) per meter. Per meter persegi itu Rp 5000," ujarnya kepada KBR, Jumat (28/8).

Seniman menambahkan, oknum TNI berdalih uang tersebut adalah uang ganti rugi tanaman yang rusak.

Saat mengundang, TNI juga menyatakan batas akhir pembayaran ganti rugi dilakukan sebelum 14 September 2115. Dia menduga, batas ganti rugi sebelum 14 September tersebut adalah upaya TNI memperkuat posisi sebelum dilakukan pertemuan lanjutan yang disepakati akan dilakukan 14 September 2015.

Sebelumnya pada 19 Agustus 2015 lalu kedua belah pihak dipertemukan dalam audiensi yang digelar oleh Pemda dan DPRD Kebumen. Warga Urut Sewu dan TNI bersepakat akan melakukan pertemuan lanjutan pada 14 September 2015 nanti sambil menunjukkan dokumen kepemilikan tanah yang dimiliki.

Editor: Dimas Rizky

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Problematika Bantuan Sosial BBM

Most Popular / Trending