Bagikan:

Diserang TNI Saat Demo, Puluhan Petani Pesisir Urut Sewu Terluka

Konflik agraria antara petani Pesisir Urut Sewu Kecamatan Mirit, Kebumen dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali menelan korban.

BERITA | NUSANTARA

Sabtu, 22 Agus 2015 18:04 WIB

Ratiman, warga Wiromartan, salah satu korban luka bentrok dengan tentara yang dirawat Puskesmas Miri

Ratiman, warga Wiromartan, salah satu korban luka bentrok dengan tentara yang dirawat Puskesmas Mirit, Kebumen . Foto: KBR/ Muhamad Ridlo/Agam

KBR, Kebumen – Puluhan orang petani Pesisir Urut Sewu, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah terluka pasca diserang Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat. Empat di antaranya bahkan luka parah sehingga harus dilarikan ke RS Kebumen dan Puskesmas Mirit.

Aktivis Urut Sewu Bersatu (USB), Agam mengatakan salah satu korban yang terluka parah dan dirawat di rumah sakit adalah Koordinator Petani Urut Sewu Bersatu (USB), Widodo Sunu yang juga Kepala Desa Wiromartan. Selain Widodo Sunu, tiga orang lainnya dirawat di Puskesmas yaitu Rajab warga Petangkuran, Ratiman warga Wiromartan dan Prayoga Wiromartan. Sunu mengalami retak tangan dan kepalanya bocor.

Ia menceritakan, penyerangan terjadi pasca warga yang berjumlah sekira 150an memprotes pemagaran wilayah yang diklaim oleh TNI di muara Sungai Lok Ulo di Pesisir Desa Wiromartan sejak Jumat kemarin. Mereka memprotes pemagaran tersebut dan menanyakan dasar hukum dan bukti atas klaim tanah tersebut. 

"Ya, jadi sejak pukul 9 tadi pagi kan warga mulai bergerak ke selatan untuk menahan tentara yang memagar sejak kemarin. Berangkat dari Desa Wiromartan. Sampai sana, kita orasi segala macam. Tentara berdatangan, bertambah terus, dengan pentungan lengkap dan tameng lengkap. Kita seakan dikepung dari depan, kanan, kiri, belakang. Saat sedang  orasi, kebetulan saat itu yang sedang orasi Pak Kepala Desa Sunu, tiba-tiba tanpa peringatan diserang saja main gebuk. Yang terluka termasuk Pak Sunu. Sekarang masih pingsan di dalam (rumah sakit)," kata Agam, Sabtu (8/22).

Sementara itu, Kepala Desa Petangkuran, Muslihin mengatakan, warga mundur hingga 200 meter dari lokasi ketika tentara mulai represif. Namun, tetap dikejar dan dipukuli. Bahkan, kata dia, saat dia berusaha menolong korban Widodo Sunu, ia juga mendapatkan pukulan oleh tentara.

Muslihin mengungkapkan bentrok kali ini merupakan aksi represif tentara yang sudah kesekian kali terjadi. Terakhir terjadi akhir Juli lalu. "Saat itu, satu orang terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Puluhan lainnya luka ringan."

Tanah yang menjadi konflik antara petani dengan TNI terletak di daerah Pesisir Urutsewu, antara muara Kali Lukulo Desa Ayamputih di sebelah barat, sampai dengan muara Sungai Wawar Desa Wiromartan. Total, daerah yang disengketakan ini memiliki panjang kurang lebih 22,5 km dan lebar 500 meter dari bibir pantai.

Warga yang terlibat dalam konflik ini berasal dari beberapa desa sepanjang pantai Kebumen Selatan. Yaitu, Desa Ayamputih, Setrojenar, Bercong Kecamatan Buluspesantren, Desa Entak, Kenoyojayan Ambal Resmi, Kaibon Petangkuran, Kaibon, Sumberjati Kecamatan Ambal, Desa  Mirit Petikusan, Mirit, Tlogodepok, Tlogopragoto, Lembupurwo, dan Wiromartan Kecamatan Mirit.


Editor: Sindu D 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Problematika Bantuan Sosial BBM

Most Popular / Trending