Banser Cirebon Tolak Paham Radikal

Ribuan anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) memadati Jalan Kartini Kota Cirebon, mereka dengan keras menyatakan menolak paham radikal.

BERITA | NUSANTARA

Sabtu, 15 Agus 2015 17:47 WIB

Author

Frans Mokalu

Apel Siaga Gerakan Pemuda Ansor se-Wilayah III Cirebon. Foto: KBR/Fransiskus Mokalu

Apel Siaga Gerakan Pemuda Ansor se-Wilayah III Cirebon. Foto: KBR/Fransiskus Mokalu

KBR, Cirebon – Ribuan anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) memadati Jalan Kartini Kota Cirebon, hari ini, Sabtu (15/ 8). Mereka dengan keras menyatakan penolakan terhadap paham radikal. Pernyataan sikap ini disampaikan dalam Apel Siaga Gerakan Pemuda Ansor se-Wilayah III Cirebon (Kota/ Kabupaten Cirebon, Kuningan, Indramayu, Majalengka)  tepat di depan Masjid Agung At-Taqwa.

“Kita minta komitmen ini disebarluaskan tidak hanya di Cirebon dan Jawa Barat saja, di bumi nusantara ini kita tolak paham radikal,” tegas Komandan Satuan Kordinasi Nasional (Dansatkornas) Banser sekaligus sebagai pembina upacara, Alfa Isnaeni dalam sambutannya.

Alfa menilai, paham radikal dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), jika tidak ditangani dengan tegas dan cepat  .

“Siapapun yang ada di Indonesia harus sepakat dengan NKRI, kita akan melawan kelompok-kelompok radikal atau siapapun yang tidak sepakat dengan NKRI,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Wakil Sekjen GP Ansor Emay Ahmad Maehi mengatakan, sikap NU dalam berbangsa dan bernegara adalah menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

“Ini adalah sikap NU dalam berbangsa dan bernegara. NU dan Ansor akan mengawal seluruh ideologi bangsa ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, sikap anarkis yang ditunjukkan paham radikal dalam berekspresi merupakan pelanggaran hukum yang harus ditindak tegas. Untuk itu pihaknya mendorong aparat menindak siapapun yang berbuat anarkis. Menurutnya, warga negara Indonesia terutama umat muslim harus menjunjung tinggi NKRI. 

“Kita sudah banyak mengalami kecelakaan. Kecelakaan atas nama kekerasan, kebencian dan ketidaktoleransian terhadap satu sama lain. Dan ini harus berakhir. Kita adalah warga negara Indonesia yang beragama islam, bukan orang islam yang ada di Indonesia,” tegasnya. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Ramai-ramai Mudik Dini

Ramadan (Masih) dalam Pandemi Covid-19

Kabar Baru Jam 8

Disability Right Fund (DRF) Mitra Disability People Organisation (DPO)