Tambang Tradisional Matikan Ribuan Ikan di Aceh

Warga diminta untuk tidak memakan ikan yang mati.

NUSANTARA

Minggu, 03 Agus 2014 02:47 WIB

Author

Mongabay-Green Radio

Tambang Tradisional Matikan Ribuan Ikan di Aceh

Mongabay, tambang, ikan, Aceh

Kuddi adalah pawang sungai atau panglima krueng di Sarah Raya. Sejak 26 Juli lalu, di Geumpang, Pidi, ada hal yang membuatnya bingung. Ribuan ikan mati di aliran sungai di Pidie hingga Aceh Jaya. Warga yang mengkonsumsi ikan pun keracunan dan langsung dilarikan ke rumah sakit. 


“Dari hari raya ketiga sampai ke mari, ikan mati,” kata Kuddi lemas. 


Warga lain, Adi Saputra, menambahkan, ikan yang mengapung itu terbawa arus sungai dan warnanya putih pucat. “Inang pecah, dagingnya lembek.” Sisik ikan yang mati juga memerah, mata bengkak sementara kelamin di perut terburai. 


Ketika keanehan ini mulai terjadi, warga beraktivitas seperti biasa di sungai: mandi, mencuci dan buang air di sungai. Di awal warga sempat juga mengambil ikan yang mati untuk dimakan, tapi lantas sejumlah warga melaporkan pusing dan badan sakit. Total ada empat orang yang sudah dilarikan ke RS karena memakan ikan mati ini. 


Kepala Desa Padang Kleng, Kecamatan Teunom Jufri Abdurrahman mengatakan ini belum pernah terjadi sebelumnya. Begitu ada korban, masyarakat langsung diminta tidak mengkonsumsi ikan sungai. Kasus keracunan telah terjadi di tiga desa, yaitu Sarah Raya, Alu Meuraksa dan Bintah. 


Akibat tambang


Warga setempat menduga, ikan keracunan akibat pertambangan tradisional di sekitar sungai. Tengku Sulaiman, Imum Mukim Leutung, di Pidie, Pasalnya, pertambangan di sana, diduga tidak hanya menggunakan merkuri. Karbon, soda, obat tetes, hingga cairan berbahaya lainnya juga digunakan.


“Saat emas sudah dipisahkan, pasirnya dibawa turun ke bawah dan dibakar. Kandungan emas lebih banyak,” kata Sulaiman. Karbon yang terkadung dalam cairan itulah yang kemudian dibawa air hujan ke Krueng Geumpang hingga Krueng Teunom. Jika memang terbukti ikan itu mati karena keracunan pertambangan, kata Sulaiman, maka warga bakal menutup pertambangan emas itu.


Di Geumpang, ikan makin banyak yang mati setelah hujan turun. “Selama ini di Kemukiman Mane, diterapkan aturan tidak boleh membuka tambang di aliran sungai Krueng Mane. “Jika saluran pembuangan terhubung ke sungai harus tutup,” jelas Sulaiman.


Sehari setelah kejadian di Krueng Geumpang, ikan mati di Krueng Mane. Seminggu setelahnya sampai ke Krueng Teunom, aliran sungai yang langsung terhubung ke laut.


Larangan makan ikan


Sulaiman dan sejumlah tokoh masyarakat sudah membuat pengumuman untuk tidak memakan ikan dan minum air yang bersumber dari sungai. “Padahal dari dulu, Krueng Mane sumber perekonomian masyarakat sekitar,” kata Sulaiman.


Petugas pemerintahan telah mengambil sampel ikan, untuk uji laboratorium. “Saya sudah lapor bupati. Ini harus segera diatasi,” tandasnya.


Tulisan ini adalah hasil kerjasama Green Radio dan Mongabay


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Melimpah Limbah Medis

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11