Polda DIY: Penahanan Florence Tak Berlebihan

KBR, Jakarta - Kepolisian Daerah Yogyakarta (Polda DIY) mengklaim upaya penahanan terhadap Florence Sihombing sudah tepat.

NUSANTARA

Minggu, 31 Agus 2014 14:36 WIB

Author

Novaeny Wulandari

Polda DIY: Penahanan Florence Tak Berlebihan

florence sihombing, SPBU, Path, DIY

KBR, Jakarta - Kepolisian Daerah Yogyakarta (Polda DIY) mengklaim upaya penahanan terhadap Florence Sihombing sudah tepat. Florence sebelumnya dijerat pasal pidana lantaran pernyataannya yang ditulis di media sosial, Path. Juru Bicara Kepolisian Yogyakarta, Any Pudjiastuti menjelaskan, Florence tidak berlaku kooperatif saat dimintai keterangan oleh penyidik.

"Tidak kooperatifnya begini, dia mau ditahan. Tapi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) itu minta dicabut. Tidak mau menandatangai Berita Acara Pemeriksaan, berarti menandakan tidak kooperatif disini. Alasan kita melakukan penahanan yang pertama, untuk kepentingan penyidikan. Lalu subyek dan obyek hukum ini ancamannya lebih dari 5 tahun. Lalu menghilangkan barang bukti atau melarikan diri," ujar Any kepada KBR (31/8).

Ia juga mengklaim, institusinya telah mengantongi bukti berupa tiga buah print out pernyataan Florence di media sosial, Path. Selain itu polisi juga menyita telepon genggam milik Florence.

Upaya penahanan yang dilakukan kepolisian sebelumnya dianggap berlebihan oleh seniman Butet Kartaredjasa. Menurutnya, Kepolisian Yogya sebaiknya mengurusi kasus-kasus yang lebih penting. Semisal kasus pembunuhan wartawan Udin, kekerasan-kekerasan berkedok agama, kasus anjuran anti pluralisme di Jogja, dan premanisme.

Pemilik akun Path, Florence Sihombing dilaporkan ke kepolisian karena tulisannya yang dianggap menghina warga Jogja. Dia lalu dijerat dengan pasal dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) serta pasal Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).


Editor: Quinawaty Pasaribu

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Eps.6: Kuliah di Perancis, Cerita dari Dhafi Iskandar

Insiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarkat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak