Merebut Kembali Masjid yang Pernah

Kata Ulama setempat, ISIS sudah jelas salah karena membunuh sesama Muslim.

NUSANTARA

Kamis, 21 Agus 2014 11:01 WIB

Author

Pebriansyah Ariefana

Merebut Kembali Masjid yang Pernah

ISIS, irak, suriah, bekasi

KBR, Jakarta - Masjid Muhammad Ramadhan pada Rabu (20/8) malam tampak ramai. Belasan ulama berkumpul di masjid yang berlokasi di Jalan Pulo Ribung Raya, Perumahan Taman Galaxy, Pekayon, Kota Bekasi.

Para ulama ini mendeklarasikan kalau mereka sudah bersih dari pengaruh Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Mereka berulang kali menyerukan kalau ISIS adalah kelompok sesat dan radikal.

"ISIS itu udah jelas radikal, salah, dan sesat. Dia membunuh sesama muslim. Sesama muslim tidak boleh saling membunuh, dosa," seru ulama Bekasi Tasmuni Al-Hasyim.

Masjid Muhammad Ramadhan adalah satu dari delapan masjid di wilayah Bekasi yang diduga menjadi tempat berkembangnya paham ISIS. Sejak awal Agustus lalu, Komunitas Intelijen Daerah Kota Bekasi sudah mengumumkan nama-nama mesjid tersebut yaitu Masjid Jannatul Firdaus, Masjid Al-Jiqro, Masjid Al Muhajirin, Masjid Al Hikmah, Masjid Imam Bukhori, dan Isalamic Center Kota Bekasi.

Deklarasi penolakan ISIS malam itu dihadiri banyak pemuda dan tokoh masyarakat setempat. Hafis, salah satu remaja Masjid Muhammad Ramadhan menjelaskan kalau ia dan teman-temannya sudah sepakat soal ISIS dan tidak mau terpengaruh ajaran paham radikalnya.

"Saya malah cari tahu apa sih itu ISIS. Biar nggak terpengaruh. Karena bahaya yah generasi muda kalau terpengaruh.”

Pengaruh kelompok radikal

Selama bertahun-tahun, Masjid Muhammad Ramadhan ini diduduki dan diurus oleh kelompok radikal, yaitu Jamaat Anshorut Tauhid (JAT).

Sejak 2012, JAT masuk dalam daftar organisasi teroris asing versi Amerika Serikat karena dianggap bertanggung jawab atas serangkaian serangan terhadap warga sipil dan aparat keamanan di Indonesia, juga berusaha menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.

Serangan diduga dilakukan JAT di antaranya serangan bom bunuh diri di sebuah gereja di Solo pada 2011 dan sebuah masjid di Cirebon, Jawa Barat. Pada 2011, pendiri JAT Abu Bakar Baasyir dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana terorisme dan divonis 15 tahun penjara.

Seorang pejabat Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) masjid itu bercerita dulunya masjid itu sering digunakan Baasyir untuk menggelar pertemuan, mengaji, dan ceramah. Baasyir juga sering berceramah di Masjid itu. Pejabat DKM ini menolak menyebutkan namanya dengan alasan keamanan. Kata dia, terakhir, Baasyir terlihat di masjid itu tahun 2002. Saat itu dia ditetapkan sebagai tersangka oleh Mabes Polri dalam kasus Bom Bali.

"Dulu Baasyir di sini. Kan ditangkap di sini. Fakta sidang dia banyak di sini," kata dia saat ditemui KBR di Masjid Muhammad Ramadhan, Rabu (20/8).

Tidak banyak yang tahu sejak kapan JAT mengurus masjid ini. Warga baru menyadari soal ajaran radikal di masjid ini ketika Syamsudin Uba mendeklarasikan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pada 15 Februari lalu.  Syamsudin sendiri adalah warga yang tinggal di sekitar Masjid Muhammad Ramadhan.

Deklarasi itu dilakukan oleh dua alumni Jihad Afghanistan bernama Bahrumsyah dan Said Sungkar. Bahrumsyah merupakan sosok pria yang ada di video ajakan jihad bersama ISIS. Bahrumsyah saat ini berstatus buron Mabes Polri. Sejak itu Syamsudin Uba menyebarkan paham ISIS ke warga sekitar masjid, meski warga mengaku tak paham betul soal ajaran ISIS.

"Nggak tahu apa yang mereka kasih. Tapi mereka menyebarkan ajarannya dari mulut ke mulut. Banyak yang ikut mereka," jelas dia.

Menurut pengurus masjid ini, cukup banyak warga Kelurahan Pekayon yang terseret ke ajaran ISIS. Setelah ISIS ramai dibahas dan ditolak di berbagai tempat, warga yang diduga terpengaruh ISIS tidak berani memunculkan diri. Apalagi setelah Masjid Muhammad Ramadhan diambil alih oleh Pemerintah Kota Bekasi April lalu, dan Pemerintah mengancam akan menghukum pengikut ISIS.

"Ini kan masalah keyakinan saja, nggak ada yang tahu apakah mereka ISIS atau bukan. Saya kira masih ada ISIS, tapi tidak di Masjid ini," jelasnya lagi.

Perombakan pengurus masjid

Sejak April 2014, seluruh pengurus Majid Muhammad Ramadhan dirombak. Syamsudin Uba dicopot sebagai Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) karena jamaah masjid mengaku mulai tak nyaman dengan khutbah di masjid, terutama saat salat Jumat.

"Ceramah mereka itu kayak menebar kebencian. Teriak thogut, thogut. Pokoknya agak seram yah," jelas dia. Dalam ajaran Islam, thogut berarti segala sesuatu yang berlawanan dengan aturan Allah.

Meski sudah dicopot dari jabatannya, Syamsudin Uba tak berhenti menyebarkan paham ISIS. Kali ini dia berpindah ke masjid di sekitar, yaitu Masjid Al Muhajirin di Jalan Pulo Sirih 8, Taman Galaxi Indah, Kota Bekasi. Di sini, Syamsudin kembali mendeklarasikan ISIS pada 3 Agustus 2014. Bahkan di sini, Syamsudin sampai mengibarkan bendera ISIS. Dia menyebut kelompoknya bernama Khilafah Ibrahim, dan mendukung penuuh kegiatan ISIS.

Enam hari setelah deklarasi ISIS, Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap Ketua Harian Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Afif Abdul Madjid di kawasan Jatiasih. Kepolisian Kota Bekasi juga masih memeriksa 50-an orang yang diduga sebagai simpatisan ISIS. Salah satunya adalah Syamsuddin Uba yang diketahui menjabat sebagai pimpinan JAT Kota Bekasi. Namun kepada sejumlah media, ia membantah sebagai penggerak ISIS.

Masjid radikal

Salah satu ulama Bekasi yang hadir dalam deklarasi menolak paham ISIS Rabu (21/8/2014) malam di Masjid Muhammad Ramadhan Bekasi adalah Abdul Hadi. Dia memperkirakan banyak masjid di Bekasi yang berikan ulama radikal dan menyebarkan ajaran radikal pula. Menurut dia, itu terjadi lantaran banyak masjid yang tidak menggelar kegiatan secara rutin. Tanpa kegiatan rutin, kata Abdul, masjid mudah disusupi ajaran radikal dengan memakai kedok agama. 


Karena itu, Dewan Kemakmuran Masjid se-Kota Bekasi bersepakat untuk mulai mengaktifkan kembali kegiatan keagamaan demi mengikis paham radikal ISIS.

"Dulu kan di mana-mana, waktu jaman dulu nih. Yang hilang di masjid kan dulu sendal, mic, sekarang mah masjid dan musalah ilang,” kata Abdul.

Editor: Citra Prastuti

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Cegah Penyebaran Covid-19, WHO Dukung Kebijakan Penggunaan Masker untuk Semua Orang

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Wabah Corona

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18